Hal ini dikatakan oleh pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Hamid Paddu ketika dihubungi detikFinance, Minggu (11/5/2008).
"Ini tidak efektif, karena akan punya efek psikologis terhadap warga. Efek psikologis ini berupa kesenjangan dan kecemburuan sosial," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurutnya, BLT dibutuhkan secara menyeluruh oleh warga sebagai penyelesaian singkat atas kebutuhan warga yang mendesak. "Tidak cukup hanya 6 kota. Karena yang mengalami dampak kenaikan adalah seluruh rakyat indonesia," terangnya.
Hamid menegaskan bahwa jumlah warga yang masuk sebagai kategori miskin akan bertambah dengan semakin merangkaknya kebutuhan pokok. "Yang dulunya berada di garis kemiskinan, kini semakin drop dan masuk ategori miskin," katanya.
BLT selama ini menurut dosen Fakutas Ekonomi Unhas ini sebenarnya hanya mengatasi persoalan warga selama 6 bulan hingga setahun.
"Untuk keberlanjutan hidup warga butuh paket lain, yaitu berupa barang atau infrastruktur yang menunjang produksi untuk keberlanjutan hidup warga," terangnya.
(gun/ddn)











































