"(Dengan BLT) Pemda seperti diberi urusan, karena pemerintah pusat tak punya orang di daerah," katanya dalam Sarasehan Rekonsiliasi Sejarah: Tata Baru untuk Rakyat di Gedung Pertemuan Daerah Salatiga, Jalan Pemuda, Rabu (21/5/2008).
"Sampai saat ini, peraturan masih sentralistik. Otonomi belum jalan. Itu fakta," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sultan meminta pemimpin dan rakyat menimba ulang pola pendekatan terhadap kekuasaan. Pendekatan materi atau uang lebih banyak dampak negatif daripada positifnya.
"Saat ini, sepertinya orang dihargai karena uangnya. Orang menjadi pejabat yang dicari, ya uangnya. Semua diukur dengan uang," katanya.
Di Salatiga, acara sarasehan sempat kedatangan tamu tak diundang. Puluhan mahasiswa berunjuk rasa meminta kalangan kraton termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono menolak kenaikan harga BBM.
Para pendemo tak bisa masuk, karena ketatnya penjagaan. Akhirnya mereka hanya bisa berorasi di luar pagar dan meninggalkan lokasi setelah sempat memacetkan jalan depan lokasi acara. (try/qom)











































