Hal itu dikarenakan lonjakan harga minyak mentah dunia terjadi karena aksi spekulasi dan juga melemahnya dolar AS. Padahal dari sisi permintaan dan penawaran minyak tak ada yang salah.
"Kami tidak terlalu gembira dengan kenaikan harga minyak," kata pimpinan OPEC, Abdala El-Badri dalam kunjungannya ke Ekuador seperti dikutip dari AFP, Jumat (23/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara harga minyak mentah dunia pada perdagangan akhir pekan ini di Asia kembali naik tipis, setelah pada perdagangan kemarin di New York turun tajam.
Kontrak utama untuk minyak jenis light pengiriman Juli naik 26 sen menjadi US$ 131,07 per barel. Kontrak ini sebelumnya di New York turun hingga 2,36 dolar ke level US$ 133,17 per barel.
Sementara minyak jenis Brent pengiriman Juli naik 35 sen menjadi US$ 130,86 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, minyak jenis Brent turun hingga 2,19 dolar ke level US$ 130,51 per barel.
Kedua kontrak ini sebelumnya melonjak ke level tertingginya untuk jenis light di level US$ 135,09 dan Brent di US$ 135,14 per barel.
El-Badri mengaku lonjakan harga minyak kali ini sudah benar-benar gila. "Harga sebelumnya US$ 130, dan hari ini menembus US$ 135. Jadi ini adalah benar-benar pasar yang gila," imbuhnya.
Ia menambahkan, pada masa lalu, jika ada masalah dengan suplai, maka OPEC akan langsung menggelar pertemuan dan berupaya mengoreksinya.
"Namun hari ini kami yakin bahwa harga kali ini tak ada hubungannya dengan pasar, karena ada banyak minyak di pasar, tidak ada kekurangan. Cadangan minyak sangat tinggi, pada level yang cukup aman, masalah utama adalah spekulasi," pungkasnya. (qom/ir)










































