Demikian disampaikan oleh Regional Manager BCA Finance KA Wibowo dalam acara talkshow prospek bisnis penjualan mobil bekas pasca kenaikan BBM, di WTC Mangga Dua, Minggu (25/5/2008).
"Dampaknya pasti terasa, tapi saya prediksi tidak akan terlalu lama paling-paling hanya satu bulan saja," ujarnya.
Ia menambahkan dampak penurunan akan paling terasa pada jenis mobil segmen dengan harga Rp 200 juta ke bawah. Sedangkan untuk mobil yang berada dikisaran diatas Rp 200 juta tidak akan terpengaruh.
Senada dengan Wibowo, Kepala Cabang Mobil 88 Jakarta Selatan Leovan Widjaja mengatakan penurunan penjualan pada tahun ini hanya sesaat dan dampaknya tidak separah dibandingkan dengan penjualan mobil bekas pada tahun 2005 yang terimbas kenaikan BBM.
Hal ini terjadi karena kondisi kenaikan BBM pada tahun 2005 lalu sangat tinggi yang mencapai 100%, sehingga kondisi penjualan mobil bekas sangat anjlok.
"Tahun lalu pengaruhnya dari 2005-2006 hingga mencapai 25% hingga 30%, kalau tahun ini tidak terlalu terpengaruh, hanya sesaat saja," ungkapnya.
Kenaikan BBM pasar mobil bekas akan mengalami shock sesaat. Terutama oleh faktor isu kenaikan BBM sebelumnya dimana orang mencoba menahan untuk membeli mobil.
"Saya memperkirakan akan ada penurunan 10% tetapi itu sifatnya sementara, biasanya masyarakat kita cepat pelupa dengan adanya kenaikan BBM. Shock bisa terjadi dalam kurun waktu satu bulan namun setelah itu ia memperkirakan akan stabil lagi," tambahnya.
Leovan menambahkan penjualan mobil bekas dari Mobil 88 secara rata-rata nasional mencapai 600 unit per bulan.
"Mobil bekas tidak bisa turun bagaimanapun minat orang untuk menggunakan mobil dari motor sangat tinggi," jelas Leovan. (hen/ddn)











































