Misalnya saja yang dialami Ibu Jami (45), warga Pondok Gede, Bekasi. Ia sudah mencari ke 5 toko penjual elpiji sejak Senin (26/5/2008) kemarin. Hasilnya? Tentu saja nihil.
Sebenarnya ada 2 toko yang masih memiliki pasokan. Namun toko yang bersangkutan menolak memberikan elpiji dengan alasan sudah dipesan. Diduga toko-toko itu menahan penjualan karena ada kabar harga elpiji akan dinaikkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin katanya masih ada yang jual, tapi harga elpijinya Rp 65.000. Padahal biasanya cuman Rp 55.000 sudah diantar," keluh Jami. Ia pun akhirnya memilih menggunakan kompor minyak tanah, meski harga minyak tanah juga tak murah yakni Rp 5.500 per liternya.
Pantauan detikFinance, Selasa (27/5/2008), sejumlah pemasok belum memiliki stok elpiji. Seperti di SPBU di Jalan TB Simatupang, tabung-tabung elpiji kosong masih tergeletak.
"Belum ada lagi bu, pasokan elpijinya," kata petugas SPBU tersebut.
Dirut Pertamina Ari Soemarno sebelumnya mengatakan, kelangkaan elpiji akhir-akhir ini salah satunya disebabkan oleh perbaikan kilang Balongan yang baru saja selesai. Selain itu, kelangkaan elpiji juga dipicu oleh banyaknya agen yang berspekulasi akan adanya kenaikan harga. Padahal menurut Pertamina tak ada kenaikan harga elpiji.
Tapi, sampai kapan kelangkaan elpiji akan berakhir? Silakan Pertamina menjawab....
(qom/qom)











































