Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, dari kebutuhan total BBM PLN 2008 sebesar 10 juta KL, 1,1 juta KL diantaranya sudah dipasok Shell. Artinya, Pertamina tinggal berkewajiban 8,9 juta KL.
"Kita akan konfirmasi ke PLN, karena batas yang kita suplai 8,9 juta KL sudah ada jadwalnya. Kalau diluar itu, ya kita harus lihat stok kita. Kalau ternyata stoknya ga ada, berarti kita harus impor dari pasar spot. Harga pasar spot kan beda," katanya disela-sela acara Indonesia Petroleum Association, Jakarta, Rabu (28/5/2008).
Karena perbedaan harga pasar spot ini, makanya Pertamina keberatan kalau harus mensupplai BBM ke PLN dengan margin yang sama, yaitu MOPS+5%.
"Kita sudah bicara dengan Wadirut PLN Rudiantara, kalau kita ingin harga BBM yang diluar kewajiban kita pakai harga komersial dong. Dan PLN seharusnya mau," kata dia.
Permasalahan BBM ini dimulai karena ada sejumlah bahan bakar pembangkit PLN yang menipis. PLN pun meminta tambahan BBM ke Pertamina untuk mengganti bahan bakar yang menipis tersebut.
"Saya nggak tahu yang kurang itu BBM dari Shell atau batubara. Yang jelas mereka minta kita nambah pasokan. Tapi kalau kita nggak ada kan harus impor. Apalagi, kita juga menangani BBM subsidi untuk masyarakat. Jadi harus dibagi-bagi," katanya.
Menipisnya bahan bakar pembangkit ini membuat beberapa pembangkit PLN tidak beroperasi penuh, sehingga pasokan listrik Jawa Bali menjadi defisit dalam 3 hari terakhir. Akibatnya, pemadaman bergilir pun melanda sejumlah daerah di Jawa Bali.
(lih/qom)











































