Smart Card Masih Ragu-ragu

Smart Card Masih Ragu-ragu

- detikFinance
Kamis, 05 Jun 2008 08:26 WIB
Smart Card Masih Ragu-ragu
Jakarta - Pemerintah nampaknya masih ragu-ragu dalam menerapkan program kartu pintar (smart card) untuk pembatasan penggunaan BBM bersubsidi pada tahun 2009.

Hal ini dapat dilihat dari asumsi konsumsi premium untuk tahun 2009 yang telah disetujui DPR, dan tidak menyertakan perhitungan setelah adanya penerapan Smart Card.

"Untuk asumsi yang kita ajukan yang kita setujui tadi, untuk tahun 2009 belum ada pengendalian Smart Card. Dulu keputusan dengan komisi VII itu masih sebatas Uji coba," jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro usai acara rapat kerja dengan komisi VII DPR RI, Senayan, Rabu malam (4/6/2008).

Senada dengan Purnomo, ketua komisi VII Airlangga Hartarto mengamini pernyataan Purnomo tersebut. Bahkan ia sempat menjawab dan mencoba meyakinkan dari pertanyaan Purnomo yang nampak ragu mengenai penerapan Smart Card pada tahun 2009 nanti.

"Masih uji coba, jadi memang komisi VII belum pernah memberikan persetujuan soal Smart Card, kita minta uji coba dulu dievaluasi baru kita lihat," timpal Airlangga menjawab pertanyaan Purnomo.

Hingga kini kata Purnomo, pemerintah sedang mendalami proses pengadaan Smart Card termasuk dalam pendanaan dan pelaksanaannya yang perlu diseimbangkan agar proses tender smart card tidak terkesan terburu-buru dan bisa berjalan dengan baik.

"Sekarang sedang dihitung oleh BPH Migas, karena bukan hanya itu, Smart Card menggunkan komunikasi satelit karena interlink dengan satelit. Jadi kita sedang menghitung biayanya kalau dibuka tender masuk gak," ucap Purnomo.

Menurutnya pemanfaatan Smart Card memiliki banyak fungsi diantaranya untuk pengaturan harga, pengaturan volume dan pengaturan tagihan.

"Jadi ini kepentingannya banyak, makanya kita sedang menghitung, lalu kita arahkan menjadi uji coba. Dulu kita usulkan kita coba di Batam dan Bali, kemudian pemda menolak, kalau Jakarta enggak mungkin karena tempatnya terbuka. Sekarang kita review lagi kita enggak mungkin terburu-buru," tambahnya.

Dalam rapat kerja tersebut disepakati kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk RAPBN 2009 itu terdiri dari premium 20,444 juta kiloliter, kerosene (minyak tanah) 5,804 juta kiloliter, dan solar 12,605 juta kiloliter. Sedangkan produksi minyak disepakati 927.000 hingga 950.000 barel per hari, harga minyak Indonesia (ICP) disepakati US$ 95 hingga 120 US$ per barel, dan kuota BBM bersubsidi 38,854 juta kiloliter.
(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads