Dilema tersebut mengemuka dalam diskusi "Dilemmas in Outsourcing" yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (17/6/2008). Hadir dalam kesempatan itu para perwakilan HR Departemen berbagai perusahaan.
Dilema outsourcing itu misalnya diungkapkan oleh seorang HR Departemen Scneider, yang mengungkapkan bahwa mereka harus menggunakan jasa outsourcing demi melakukan penghematan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Garuda Maintenance Facility (GMF) juga menyatakan menggunakan jasa outsourcing dengan jumlah sekitar 900-1.000 orang karyawan. Namun jumlah itu lebih kecil dari total karyawan GMF, dan digunakan untuk jasa-jasa yang sifatnya umum.
"Misalnya untuk mekanik pesawat, itu kami tidak outsourcing, tapi untuk pekerjaan yang lebih low dan bisa dikerjakan pihak luar, maka itu yang kami outsourcing," kata staf HR GMF dalam diskusi tersebut.
Menurut Irham Dilmy, Program Head MM Executive Binus Business School mengatakan, pada dasarnya outsourcing adalah limpahan proses bisnis kepada pihak diluar organisasi. Kunci untuk melakukan outsourcing, kata Irham, adalah membagi pekerjaan yang bukan menjadi bisnis inti perusahaan kepada orang lain.
"Sehingga tidak membahayakan kelangsungan bisnis. Jadi dengan demikian outsourcing itu bukan penghematan biaya, tapi lebih pada berbagi risiko," katanya.
Sementara HR Departemen TNT mengatakan, perlu dipelajari lebih lanjut apakah benar dengan outsourcing bisa mengurangi biaya. Ia berpandangan, pengurangan cost bukan menjadi inti utama dari outsourcing, namun sebenarnya lebih kepada yang penting bisa mendapatkan karyawan yang bagus.
Ia juga memberikan tips bagi perusahaan yang menggunakan jasa outsourcing. Tips pertama, jangan meng-outsource juga sistem leadership. Misalnya saja si pekerja outsourcing ini kinerjanya tidak bagus, maka tidak semestinya kita melemparkan kesalahan kepada si bos outsourcing. Artinya, kita harus tetap menjadi pemimpin bagi pekerja outsourcing tersebut.
Tips kedua, jadikanlah perusahaan sebagai 'rumah' bagi karyawan outsourcing yang bersangkutan.
"Karena kelemahan sistem outsourcing adalah para pegawai outsourcing kebanyakan tidak menganggap perusahaan tempat dia bekerja itu rumah mereka. Jadi mereka bekerja tidak maksimal. Nah, ini yang cukup sulit karena kalau kita memperlakukan mereka menganggap ini rumah mereka, maka kita harus memperlakukan mereka sebagai karyawan tetap. Ini dilemanya sistem outsourcing," pungkasnya.
(qom/ir)











































