Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/6/2008).
"Pabrik baru pada bulan Februari tahun depan di Cilegon ada dua, nilai investasinya masing US$ 35 juta per pabrik 1000 ton giling per hari setiap perusahaan," rincinya.
Pembangunan pabrik baru ini, dikatakan Franky, tidak murni investasi Malaysia melainkan perusahaan patungan antara investor lokal dengan perusahaan terigu negeri jiran itu. "Investor lokal join dengan Federal Flour Mills dari Malaysia," ucapnya.
Ia mengatakan dengan adanya pemain baru ini, membuktikan kalau prospek pasar terigu didalam negeri masih sangat besar dan menggiurkan bagi investor asing.
Namun ia juga menyayangkan bahwa sekarang ini masih ada beberapa produsen terigu yang ia nilai belum jelas keberadaanya apakah sebagai produsen atau sebagai importir.
"Banyak perusahaan-perusahaan terigu siluman yang mungkin pihak perindustrian dan perdagangan tidak mengetahuinya, diantaranya berada di Tangerang," ucapnya.
Franky juga mengeluhkan sekarang ini masih banyak produk terigu dumping yang berasal dari Turki, sehingga dikhawatirkan akan merusak harga terigu di dalam negeri.
"Kalau bea cukai efektif, misalnya di Jakarta, Semarang, Medan maka silumannya akan pindah," ungkapnya berseloroh.
Hingga kini kebutuhan terigu secara nasional mencapai 300 ribu metrik ton per bulan. Menjelang lebaran diperkirakan akan naik hingga 20%.
Berdasarkan data Aptindo produki terigu dalam negeri mencapai 4,8 juta metrik ton per tahun dengan utilisasi hanya baru mencapai 60%. Dengan adanya para pemain baru yang sudah mulai beroperasi pada tahun ini dan tahun depan diharapkan hingga tahun 2009 produksi terigu domestik bisa mencapai 5,7 juta metrik ton.
(hen/qom)










































