Bos OJK Buka Suara soal Singapura di Balik Ancaman Bursa RI Turun Kasta

Bos OJK Buka Suara soal Singapura di Balik Ancaman Bursa RI Turun Kasta

Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2026 18:14 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi
Foto: Dok. OJK
Jakarta -

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi merespons pernyataan Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang menyebut potensi penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market ada campur tangan Singapura.

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menyatakan, sebagai regulator pihaknya akan fokus kerja.

"Kita kerja aja. Silahkan orang lain mengomentari. Silahkan orang berpikir sendiri. Tapi kita kerja aja," ujar Kiki saat ditemui usai acara Ijtima' Sanawi, di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menekankan pihaknya terus melakukan pembenahan serta penegakan hukum di pasar modal Indonesia. Hal ini juga telah ia sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

"Kemarin saya sampaikan juga abis kita juga sampaikan laporan kepada Bapak Presiden menyampaikan teruskan reformasi yang sangat baik. Kemudian tegakkan ketentuan dan enforcement terus," imbuh ia.

Kiki juga bersyukur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mengalami perbaikan hari ini. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menguat 5,65% ke level 5.278,8 atau naik 282,27 poin.

"Alhamdulillah sudah rebound. Sudah pada buyback, berarti market kita confident lah," jelasnya.

Sebelumnya, Lutfi menilai ancaman penurunan status tersebut terjadi karena adanya campur tangan Singapura. Institusi investasi Singapura, Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), memiliki pengaruh besar terhadap MSCI.

Bahkan, dirinya mengaku mendapat informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. Tujuannya untuk memicu kepanikan di pasar saham agar investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga murah.

Pasalnya, Lutfi menilai status Standalone Market diperuntukkan bagi negara yang menerapkan capital control atau pembatasan arus modal. Sementara bagi Lutfi, hal ini tidak terjadi di Indonesia.

"Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya dikutip dari Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026).

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads