Menurut Rizal, banyak target yang diumumkan di awal pemerintahan SBY tidak tercapai. Diantaranya pembangunan pembangkit listrik 10 ribu mw, pembangunan jalan tol trans Jawa 1.300 km dari Banten hingga Banyuwangi. Setelah 4 tahun, kurang dari 10 persen jalan tol yang terealisasi, demikian juga target pembangkit listrik.
"Ini pemerintahan yang sudah kadaluwarsa. Pemerintahan yang memang tidak bisa bekerja. Bisanya hanya pidato, nyanyi-nyanyi dan retorika, tapi tidak mampu menyelesaikan masalah konkret dan riil dalam ekonomi kita. Pemerintahan ini sudah harus tutup buku," ujarnya kepada wartawan di Solo, Senin (7/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, menurut Rizal, Pemerintah masih bisa menempuh langkah diversifikasi sumber energi. Program ini dinilainya masih memungkinkan penghematan energi dengan lebih efektif. Namun lagi-lagi dia menilai, semua yang dilakukan Pemerintah hanya retorika dan tidak secara serius melakukannya.
"Ini pemerintahan banyak retorika, kerjanya payah, makin lama di segala sektor jadi ekonomi ngantre. Kalau dulu ada rezim Orba dan rezim Orla, sekarang ini rezim ngantre. Untuk mendapatkan apa saja harus ngantre. Untuk dapat listrik harus ngantre, dapat gas harus ngantre, minyak tanah harus ngantre dan sebagainya. Ini menunjukkan Indonesia butuh perubahan," tegas mantan komisarus utama Semen Gresik yang baru saja dicopot ini. (mbr/qom)











































