Padahal menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah Ditjen Minerbapabum, pada saat lelang diumumkan sebagian wilayah-wilayah tersebut awalnya bukan di wilayah hutan lindung.
"99% wilayah panas bumi berada di hutan lindung. Sebagian malah ada di hutan konservasi. Padahal waktu dulu diumukan, bukan hutan konservasi, kok sekarang jadi berkembang seperti ini," ujarnya di seminar panas bumi di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (8/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi sekarang tiba-tiba dikatakan wilayah itu jadi hutan konservasi," katanya lagi.
Cerita yang sama juga terjadi di Kamojang, Jawa Barat. Padahal pengeboran sumur sudah disiapkan, bahkan kucuran kredit dari JBIC sudah ada.
"Karena dikatakan itu hutan konservasi, investornya jadi nggak berani maju lagi," katanya.
Menurut Sugiharto, kalau wilayah panas bumi sekali diumumkan, seharusnya wilayah tersebut tidak dikutak utik lagi. Sehingga bisa memberi kepastian bagi pengembangnya.
(lih/qom)










































