Kinerja Perdagangan RI Dapat Peringkat ke-68

Kinerja Perdagangan RI Dapat Peringkat ke-68

- detikFinance
Selasa, 15 Jul 2008 19:11 WIB
Kinerja Perdagangan RI Dapat Peringkat ke-68
Jakarta - Berdasarkan pemeringkatan Indikator Perdagangan Dunia (World Trade Indicators) yang mengukur kinerja perdagangan negara-negara di dunia, Indonesia berada di peringkat ke-68. Kinerja paling jelek adalah dari indikator birokrasi.

World Trade Indicators 2008 merupakan sebuah database dan alat pemeringkat baru dari Bank Dunia yang mengukur kinerja perdagangan berbagai negara berdasarkan sejumlah indikator,terutama: kebijakan perdagangan, lingkungan eksternal, lingkungan institusional, fasilitasi perdagangan, hasil perdagangan.

Berdasarkan laporan WTI 2008 yang pertama kali dibuat Bank Dunia ini, untuk tahun 2007 Indonesia mendapat peringkat ke-68 dari 160 negara, yang diukur berdasarkan pertumbuhan riil perdagangan dan jasa sebesar 7,9 persen yang selaras dengan rata-rata kelompok regional dan pendapatan pembandingnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walaupun ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas (minyak dan gas, batu bara, serta minyak sawit), Indonesia juga memiliki ekspor manufaktur yang signifikan yang didiversifikasi secara regional mencakup Asia Timur dan Tenggara, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Untuk kategori kebijakan perdagangan Indonesia menempati ranking 50 dari 125, lingkungan eksternal  diperingkat 71 dari 125, lingkungan kelembagaan (birokrasi) peringkat 123 dari 178, fasilitas perdagangan peringkat 43 dari 151 dan hasil perdagangan berada diperingkat  68 dari 160.

"Harus dilihat per indikator,  dari segi keterbukaan dalam perdagangan kita cukup terbuka, ini terus menerus kita perbaiki,  yang belum baik itu disektor jasa tapi di sektor barang kita rendah tarifnya," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam konferensi pers di gedung Departemen Perdagangan, Jakarta, Selasa (15/7/2008).

Menurut Mari, pemeringkatan ini pada dasarnya hanyalah sebagai acuan untuk mengetahui sejauh mana indikator-indikator terhadap aspek perdagangan Indonesia. Selain itu, hasil pemeringkatan ini bisa menjadi pegangan untuk negosiasi dalam penetrasi pasar.

"Jadi tujuannya bukan untuk membuka, kalau menggunakan instrumen perdagangan sebagai instrumen untuk meningkatkan pertumbuhan. Harus lihat bagaimana mengukur peningkatan biaya ekspor mungkin saja karena logistiknya  kurang baik," jelas Mari.

"Intinya bagaimana kita memperbaiki daya saing seperti yang dilakukan oleh negara lain," tambahnya.
 
Selain itu, Mari merasa cukup merasa puas terhadap indikator terhadap pelayanan dokumen dari sisi ekspor dan impor. Untuk impor yaitu dari 30 hari ke 27 hari.  

"Jumlah hari itu menunjukkan keberhasilan kita. dalam dua tahun terakhir ini untuk memperbaiki Bea Cukai untuk menuju single window," katanya.

Diakui Mari, selama ini indonesia masih  menghadapi hambatan ekspor di negara tujuan ekspor, untuk itu pemeringkatan dari Bank Dunia bisa menjadi  upaya negosiasi atau posisi tawar Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar di luar negeri.
"Inikan masalah database ini tidak ada policy recomendation. Ini hanya sebagai data base utk sebagai tools untuk negosiasi," ujarnya.

Menurut peringkat world trade indicators (WTI) tahun 2007, Indonesia menduduki posisi ke-68 dari 160 yang diukur berdasarkan pertumbuhan riil perdagangan dan jasa sebesar 7,9% yang setara dengan rata-rata kelompok regional dan pendapatan pembandingnya.

Pada tahun 2006  kategori mengenai pembatasan perdagangan Indonesia mencapai 4,5% lebih rendah dari rata-rata Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,9% dan jauh lebih rendah dari rata-rata negara berpendapatan menengah sebesar 8,7%.

Ekspor Indonesia masih didominasi oleh komoditas seperti minyak, gas, batubara, CPO. Indonesia memiliki ekspor bidang manufaktur yang signifikan yang mencakup beberapa wilayah seperti Asia Tenggara, Uni Eropa, AS dan lain-lain.




(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads