Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2008 diprediksi akan tumbuh pada kisaran 6,1-6,5%, sementara inflasi diperkirakan di atas 10%. Sedangkan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 9.251/9.500 per dolar AS.
Demikian hasil survei persepsi pasar Triwulan II-2008 yang dikutip detikFinance dari situs Bank Indonesia, Senin (21/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayoritas responden (65,8%) menyatakan tingkat inflasi secara tahunan pada triwulan III-2008 akan berada di atas 10%. Tingginya inflasi tersebut merupakan dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi per Mei 2008, faktor ekspektasi kenaikan harga dan faktor musiman menjelang puasa. Selain itu, kenaikan harga beberapa komoditas dunia disinyalir masih akan mempengaruhi inflasi selama triwulan III-2008.
Tekanan inflasi tersebut berimbas pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Responden memperkirakan rupiah akan berada pada kisaran Rp 9.251-9.500 atau sedikit melemah dibandingkan realisasi triwulan III-2007 di Rp 9.250.
Untuk perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2008, diprediksi akan mengalami tekanan dari harga minyak yang terus merangkak naik di pasar internasional, krisis energi dan krisis pangan yang melanda beberapa kawasan dunia.
Sebanyak 73,7% responden menyatakan bahwa tingkat inflasi pada tahun 2008 akan menembus angka 10%. Nilai tukar rupiah terhadap USD berada pada range Rp 9.251-9.500 atau sedikit melemah dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diperkirakan masih berkisar antara 6,1-6,5% atau relatif sama dengan realisasi pertumbuhan tahun 2007 sebesar 6,32% dan asumsi Pemerintah dalam APBN-P tahun 2008 (6,4%).
Sementara itu, transaksi berjalan dan tingkat pengangguran diperkirakan relatif sama dengan kondisi tahun 2007. Defisit keuangan pemerintah (%PDB) selama tahun 2008 diperkirakan berada pada kisaran 2,1-2,5% atau meningkat dibandingkan defisit di tahun 2007 (1,55%).
Menurut responden, beberapa faktor yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi 2008 untuk dapat tumbuh lebih tinggi berasal dari faktor domestik. Antara lain adalah lemahnya penegakan hukum, korupsi, tingginya laju inflasi, masalah kemiskinan, masalah pengangguran, dan rumitnya prosedur/perizinan untuk melakukan investasi.
Dari sisi eksternal, faktor lesunya perekonomian dunia dan harga minyak dunia yang cenderung terus meningkat dianggap sebagai faktor yang akan memberikan resiko menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. (qom/ir)











































