Demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Teh Nasional Abdul Halik dalam acara konferensi pers, di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (22/7/2008).
"Masalah sistem produksi dan pemasaran masih menjadi kendala utama industri teh kita," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketersedian lapangan kerja di industri teh 3,5 orang per hektar, sedangkan sawit dan karet hanya 0,3 orang per hektar. Perlu melakukan rehabilitasi yang mencapai Rp 30 juta per hektar, Rp 300 miliar saja maka akan bangkit per teh-an Indonesia dan membuka peluang kesempatan tenaga kerja," katanya.
Selain masalah-masalah tadi menurut Halik, tren konsumsi teh di Indoenesia masih dipandang sebagai minuman penyegar saja, bukan sebagai minuman obat. Bahkan dari konsumsi teh Indonesia per kapita hanya 300 gram per kapita sedangkan, di Inggris mencapai 2,5 kilo per tahun.
Sementara itu Kepala Kantor Pemasaran Bersama Teh (KPB) Chakra, Rachmat Badruddin mengatakan tren tenggelamnya industri teh Indonesia, ditandai adanya tren kenaikan produksi teh naik 3% per tahun di tingkat dunia namun kebalikannya terjadi di Indonesia.
"Di Indonesia justru rata-rata turun 3% per tahun dengan harga semakin turun, produksi semakin turun," keluh Rachmat.
Padahal sebelumnya Indonesia menjadi negara yang cukup disegani di dunia. "Dulu banyak negara yang belajar dengan Indonesia justru sekarang ini mereka melampaui kita seperti Indonesia," jelasnya.
Berdasarkan data tahun 2007 terjadi kenaikan harga teh naik 7%, sedangkan pada tahun 2006 terjadi kenaikan harga teh 11%. "FAO memperkirakan akan naik 4-5% pada tahun ini," katanya.
Menurut Rachmat selama ini produksi teh hanya menghasilkan devisa 2% dari total pendapatan devisa. Tetapi dengan luasan teh yang hanya 160.000 hektar, artinya industri teh masih kalah lahan sawit yang mencapai mencapai 300.000 unit.
"Saking menyedihkannya, hingga kini harga teh Indonesia US$ 1,2, Srilanka US$ 3,4, kita targetkan bisa mencapai US$ 2,0," ucap Rachmat.
Luas lahan heh di Indonesia saat ini mencapai 136.000 hektar dengan komposisi 44% teh rakyat dengan luas 60.000 hektar, PTPN 32% dengan luas 44.000 kektar dan 24% swasta seluas 32.000 hektar.
Sedangkan dari sisi produksi teh total mencapai 167.000 ton per tahun dengan komposisi teh rakyat 23%, PTPN 54%, swasta 23%.
Mengenai ekspor tahun 2007 total ekspor mencapai 95.000 ton, diantaranya 9.000 ton teh green tea, 86.000 teh hitam.
Posisi produksi teh dunia hingga kini dipegang oleh China yang mencapai 1,03 juta ton, diikuti oleh India, Srilanka, Kenya, Turki, lalu Indonesia yang di buntuti oleh Vietnam yang mencapai 133 ribu ton per tahun. (hen/ir)











































