"Selain itu masalah pupuk menjadi kendala karena produksi pemerintah memperioritaskan pada lahan pangan. Penurunan 5% hingga semester satu," kata Ketua Dewan Teh Indonesia Abdul Halik dalam konferensi persnya di Jakarta, Selasa (22/7/2008).
Namun ia memprediksi ekspor produk teh Indonesia akan mengalami kenaikan hingga 8%. Kenaikan ini, kata Halik disebabkan adanya kekurangan pasokan negara pesaing seperti Srilanka dan lain-lain.
"Demand meningkat karena para pebisnis telah meningkatkan mutu perbaikan mutu, permintaan pasar sekarang lagi drop Srilanka terkendala masalah politik dan Kenya mengalami kekeringan, ekspor bisa meningkat 8%," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa negara ekspor teh Indonesia antara lain ke Eropa termasuk Inggris, AS dan Eropa Timur. "Kami akan mencoba membuka pasar baru," jelasnya.
Pada tahun 2007 komposisi pangsa pasar Indonesia hanya mencapai 6% di dunia atau tertinggal dengan Vietnam yang mampu menyalip yaitu 7%. Sedangkan Kenya dan Srilanka sama diposisi 20%, dibuntuti China 18% dan India 13%.
Dikatakannya, selain terkendala berbagai macam masalah seperti pupuk, produk teh juga mengalami tingkat harga yang rendah di pasar internasional karena masih terkendala dalam manajemen pemasaran yang tidak menguntungkan.
"Dengan harga yang memadai semua akan beres, sekarang ini produksi yang dihasilkan belum sesuai dengan permintaan pasar karena pemiliharaan tanaman, pabrik sudah tua yang memerlukan perbaikan," jelas Halik.
Ia mengakui hingga kini investasi yang berlangsung di sektor industri teh dan perkebunan teh sangat minim, bahkan terbilang nihil.
"Kita butuh investasi, masih sulit, bank masih enggan karena untungnya masih susah diprediksi. Kita minta penjaminan kredit investasi, investtasi yang masih berani investasi hanya PTPN VIII," katanya.
(hen/qom)











































