"Berbagai perubahan kondisi ekonomi belakangan ini menjadi salah satu faktor utama," ujar Associate Partner Research & Consultancy Provis, Arief Rahardjo, dalam paparan di gedung Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jakarta, Kamis (24/7/2008).
Tingkat inflasi yang didorong oleh kenaikan BBM telah mencapai 11,03% year on year di akhir triwulan II 2008. Tingkat suku bunga yang mengalami kenaikan ditambah lesunya pasar saham disinyalir menjadi salah satu sebab menurunnya sektor properti perkantoran (CBD) sepanjang 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total penyerapan bersih sewa sepanjang triwulan II 2008 sebesar 89.300 meter persegi (m2). Angka tersebut mengalami penurunan 16% dari hasil triwulan I 2008 yang sebesar 106.700 m2.
"Walaupun menurun, namun jika dihitung per semester I 2008, hasil tahun ini mengalami pertumbuhan sebesar 280%," ujar Arief.
Semester I tahun lalu, total penyerapan bersih perkantoran sebesar 51.600 m2. Periode yang sama tahun ini totalnya sebesar 196.000 m2.
"Penyerapan sepanjang semester I 2008 merupakan yang tertinggi sejak 1997," jelas Arief.
Harga sewa rata-rata perkantoran CBD naik tipis menjadi Rp 134.800 (US$ 14,6) per m2 per bulan dari sebelumnya Rp 131.400 (US$ 14,24) per m2 per bulan.
"Kenaikan harga sewa disebabkan kenaikan harga service charge menyusul kenaikan harga BBM akhir Mei lalu," jelas Arief.
Pada triwulan mendatang, tarif sewa rata-rata CBD diperkirakan akan kembali mengalami kenaikan. Namun besarannya masih menunggu keputusan pemerintah mengenai kenaikan tarif dasar listrik.
"Untuk tingkat persaingan diperkirakan akan semakin ketat, terutama dengan masuknya Kuningan City di Jl Prof Dr Satrio pada triwulan mendatang," ujar Arief.
(dro/qom)











































