Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu ketika ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (24/7/2008).
"Itu untuk bulan Juni, kita belum tahu mudah-mudahan akan terus, target tetap rata-rata lifting 2008 adalah sebesar 927.000 barel per hari. Mudah-mudahan realisasi lebih tinggi," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bukan proyeksi yang tidak mendasar. Ini berdasarkan pengalaman dan pertumbuhan dari kendaraan dan sebagainya. Kalau konsumsi bertambah tentu net impact negatif," jelasnya.
Anggito mengakui memang sulit untuk mengendalikan konsumsi ini, apalagi ada hari-hari raya keagamaan dan liburan yang masih akan dihadapi.
"Yang bisa dikendalikan itu dari minyak tanah, melalui konversi. Karena minyak tanah besar subsidinya dengan perbedaan harga yang besar dengan harga internasional," ujarnya.
Harga Minyak Mentah
Mengenai penurunan harga minyak yang kini di level US$ 124 per barel menjadi indikasi yang baik bagi APBN, namun pemerintah masih akan tetap melihat apakah penurunan harga minyak ini akan terus bertahan.
"Kan penurunannya baru hari-hari ini. Kita harus lihat ke depan, jangka menengahnya," jelasnya.
Oleh karena itu Anggito mengatakan pemerintah tidak akan buru-buru merevisi asumsi dari APBN-P 2008 karena penurunan harga minyak belum bisa disebut akan bertahan lama.
"Nanti kita lihat. Beberapa waktu lagilah, perubahan itu butuh beberapa waktu. Kalau harga turun karena APBN mendapatkan tambahan atau mengurangi defisit jadi kita tidak terlalu cemas. Tapi kalo naik kan menambah defisit, dan menjadi pikiran kita," tuturnya.
(dnl/ddn)











































