Demikian disampaikan Direktur Pemasaran Perum Perumnas Teddy Robinson dalam acara konferensi pers di Gedung Perumnas Jl DI Panjaitan, Jakarta, Senin (28/7/2008).
"Sekarang ini pengelolaan rusunawa bukannya untung malah buntung, biaya rusunawa Rp 15 miliar per tahun untuk mensubsidi sedangkan biaya sewa hanya Rp 90.000 maka terjadi overhead," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika tambahan subsidi itu dirasa berat, maka Perumnas mengusulkan opsi lain yakni skema penghapusan dividen.
"Itu juga gak mungkin karena tahun lalu saja kita merugi hingga puluhan milyar," imbuhnya.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut tahun ini Perumnas menargetkan mampu menghasilan omset hingga Rp 1 triliun.
"Ini harus mesti mendapat persetujuan APBN tahun 2009 dari DPR, sebenarnya buat kita dengan bisa mengelola rusunawa dengan baik saja sudah syukur," jelasnya.
Diakuinya, untuk pembangunan rusunawa selama ini banyak dikelola oleh lembaga-lembaga di luar dari Perumnas termasuk kalangan pemda yang berasal dari dana APBD. Sedangkan selebihnya dari APBN dari pemerintah pusat, diantaranya Kemeterian Perumahan Negara, termasuk yang dikelola oleh Perumnas.
Di Jakarta saja ada beberapa lokasi Rusunawa yang dikelola Perumnas seperti di Cengkareng, sedangkan di luar Jakarta ada di Medan dan lain-lain. "Wah jumlahnya ratusan tower," jelasnya.
Dengan kondisi rusunawa yang sekarang ini Perumnas membutuhkan banyak renovasi, setidaknya perusahaan plat merah ini masih membutuhkan dana tambahan hingga Rp 100 miliar untuk melakukan renovasi terhadap kerusakan-kerusahan yang dialami oleh rusanawa milik Perumnas.
(hen/qom)











































