Impor daging Brasil dinilai menguntungkan karena selain bisa memberikan pasokan yang cukup, harganya juga lebih murah ketimbang daging dari Australia dan Selandia Baru.
Demikian disampaikan oleh Direktur EksekutifΒ Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa) Haniwar Syarif usai acara konferensi pers penolakan 23 asosiasi terhadap tarif dasar listrik (TDL) di Jakarta, Senin (4/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan dengan membeli daging sapi dari Brasil, harga produksi industri pengolahanΒ bisa ditekan sehingga tingkat daya beli masyarakat terhadap produk daging olahan bisa terjangkau.
"Harganya hanya 60% dari harga daging sapi Australia dan New Zeland," katanya.
Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia, Yudi Guntara Noor sebelumnya menyatakan, para peternak dibuat resah oleh wacana impor daging sapi dari Brasil. Hal ini karena Brasil belum dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan kuku.
Haniwar mengaku bisa memahami penolakan tersebut. Menurutnya di Departemen Pertanian sebagai regulator punΒ terpecah suaranya menjadi dua, ada pihak yang setuju dan tidak setuju yang semuanya sama-sama kuat.
Ia menambahkan, hingga kini impor daging sapi Indonesia mencapai 75% dari kebutuhan dalam negeri, sedangkan kebutuhan industri daging olahan dari pasokan daging dalam negeri tidak terpenuhi karena jauh dibawah standar.
"IndustriΒ olahan punya standar yang lebih tinggi, peternakΒ rakyat masih kurang memenuhi syarat, kita mengharapkan daging yang cukup dan murah," jelasnya.
Terhadap pihak-pihak yang keberatan mengenai rencana impor daging Brasil, ia menyatakan daging dari Brasil masih tahap aman karena sesuai dengan ketentuan organisasi kehatan hewan dunia yang intinya masih membolehkanΒ status negara yang terkena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang berstatus zonaΒ aman.
"Yang menjadi masalah teman-teman yang mempermasalahkan adalahΒ sistemnya kitaΒ terlalu jelek sehingga memungkin berpeluang masuknya daging berasal diluar dari zona aman," katanya.
Dengan kondisi sekarang, lanjut Haniwar, kasus-kasus daging impor ilegal justru terjadi di Indonesia, sehingga ia mengusulkan agarΒ kalau status imporΒ diresmikan maka diperkirakan akan menekan penyelundupan.
"Sekarang diperbatasan banyak penyelundupan, ini sudah lama, tapi buktinya kita tidak terkena PMK," katanya.
Sampai saat ini produki daging olahan Indonesia mencapai 500 ton per bulan termasukΒ daging ayam dan sapi.
"Sebelumnya diekspor ke Jepang, untuk ayam sekarang nggak ada lagi karena kasus flu burung. Kita sedang penjajakan lagi ke negara dunia ketiga Afrika, kalau sapi memang berat, karena bahan baku impor," jelasnya.
(hen/qom)











































