Selain karena pasokan listrik di Kalimantan yang memang terbatas, harga listrik dari Malaysia pun lebih murah.
Demikian disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi disela Indo Mining and Energy di Hotel Shangri-La, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (12/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tahu Malaysia berencana membangun DAM untuk pembangkit hidro. Setelah dicek hanya berjarak 200 km dari lokasi kita. Jadi untuk tahap awal kita coba negosiasikan dengan Malaysia. Yang pasti Rusalnya sudah setuju," ujarnya.
Harga listrik dari Malaysia ini memang menggiurkan, hanya sekitar US$ 2,5 sen per Kwh. Bandingkan dengan harga listrik dalam negeri yang bekisar US$ 4,5-5 sen per Kwh.
"Yang mereka tawarkan itu harganya US$ 2,5 sen per Kwh. Itu delivery di tempat mereka sebelum sampai transmisi. Kalau dengan harga segitu, saat ini membuat proyek itu sangat kompetitif fikembangkan. Bukan hanya untuk Alumina, tapi sampai membangun refining atau pemurnian aluminium juga masih kompetitif," ujarnya.
Kapasitas pembangkit listrik tenaga air yang akan dibangun Malaysia tersebut sebesar 2.200 MW. Namun karena menggunakan tenaga air, kepastian listrik yang dialirkan hanya sekitar 60%-nya.
Jumlah ini cukup untuk proyek Antam dan Rusal yang kebutuhan listriknya mencapai 1.300 MW.Hanya saja, masalah yang belum terselesaikan terkait pembangunan transmisinya. Sesuai aturan, menurut Lutfi, pembangunan transmisi merupakan wewenang PLN.
"Tapi kalau PLN nggak bisa, kita akan memberikan spesial arrangement antara PLN, Antam dan Russal untuk membangunnya (transmisi)," ujarnya.
(lih/ddn)











































