Masih tingginya angka pengangguran dan kemiskinan adalah bukti pertumbuhan ekonomi tidak berkulitas karena tidak bisa memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin.
"Dalam konteks stabilitas makro, pemerintah memang berhasil namun pertumbuhan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya berkualitas. Yang menjadi masalah adalah pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah belum diikuti pengurangan kemiskinan dan pengangguran," kata ekonom Bambang Sumantri Brojonegoro yang juga menjabat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dalam diskusi di Warung Daun, Jalan Pakubuwono, Jakarta, Sabtu (16/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi tidak lagi pada ekspor yang basisnya komoditi. Kita harus mengganti dengan basis investasi yang sifatnya domestik. Pertumbuhan dengan dasar investasi kan lebih banyak menampung tenaga kerja," kata Bambang.
Begitu juga dengan sektor manufaktur yang harus dibangkitkan kembali. "Kalau kemarin kita bisa survive karena sektor komoditi, tapi itu tidak seterusnya," ujar Bambang.
Untuk tahun 2009, Bambang mengaku optimistis target pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 6% terutama jika harga minyak mentah dunia tidak melebihi level US$ 120 perbarel.
"Dengan kondisi itu ketidakpastian harga minyak dan harga komoditi yang sangat luar biasa, pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan bisa mendekat sampai 6%," pungkas Bambang. (ir/ir)











































