Kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap pembelian pulsa kini semakin bersaing dengan kebutuhan membeli produk pangan sehari-hari. Kalangan industri pangan mengkhawatirkan trend tingginya kebutuhan pulsa bisa menggangu kebutuhan konsumsi pangan.
Hal ini dikatakan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Pangan Indonesia (Aspipin) Boediyanto dalam acara Seminar dan Munas III, mencari strategi efektif menuju ketahanan pangan nasional melalui pengembangan industri pangan nasional, di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (21/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal sekarang ini daya beli masyarakat sejak beberapa tahun terakhir terus turun. Boediyanto pun mencontohkan 3 sampai 4 tahun lalu setiap satu orang menanggung beban ekonomi hanya dua atau tiga orang yang tidak bekerja.
"Kalau sekarang satu orang bekerja menghidupi bisa 5 orang tidak bekerja," ucapnya.
Dengan terus turunnya daya beli masyarakat itu, maka Boediyanto mengapresiasi langkah pemerintah untuk menanggung PPN 10% terigu dan gandum, serta penghapusan bea masuk untuk terigu.
Ia menambahkan, sekarang ini kecenderungan orang Indonesia untuk makan beras sudah semakin turun. Jika pada tahun 1970-an konsumsi beras mencapai 150 kg per kapita, maka saat ini hanya tinggal 104 kg per tahun per kaputa.
"Saya pikir orang Indonesia masih makan beras, tetapi penetrasi gandum masih tinggi. Kebijakan apapun terhadap terigu dan gandum maka akan mempengaruhi suplai di negara Indonesia.
Rencananya, Aspipin akan mengajukan revisi kebijakan dibersifikasi pangan kepada pemerintah.
"Kita akan mengumpulkan ide untuk diversifikasi pangan menjelang 25 tahun mendatang yang diperkirakan jumlah penduduk 400 juta," pungkasnya. (hen/qom)











































