"Kenaikan elpiji menjelang lebaran dan puasa itu tidak manusiawi," kata pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dalam diskusi di Warung Daun, Jalan Pakubuwono, Jakarta, Sabtu (30/8/2008).
Kenaikan elpiji itu dinilai tidak adil buat warga karena bisa mendorong harga sembako ikut naik. Di sisi lain kemampuan membayar warga kian rendah karena tingginya harga-harga kebutuhan saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
YLKI menilai sangat tidak masuk akal, jika Pertamina mengaku rugi hingga Rp 6,5 triliun per tahun akibat menanggung kerugian penjualan LPG kemasan 12 kg dan 50 kg. Karena Pertamina selama ini memonopoli pasar elpiji.
YLKI juga menyayangkan sikap pemerintah yang menyetujui kenaikan harga elpiji Pertamina tanpa memperhitungkan efek domino kenaikan elpiji seperti ancaman kenaikan inflasi.
Pertamina sejak 25 Agustus 2008 menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar 9,5%. Sementara elpiji 50 kg, dikurangi diskonnya dari 15% menjadi 10%.
Harga jual elpiji 12 kg naik dari Rp 5.250/kg menjadi Rp 5.750/kg atau naik dari Rp 63.000/tabung menjadi Rp 69.000/tabung.
Sementara harga jual elpiji kemasan 50 kg, dikurangi diskonnya dari 15% menjadi 10% atau dari harga Rp 6.878/kg menjadi Rp 7.255/kg. Dengan demikian harga dalam kemasan 50 kg naik dari Rp 343.900/tabung menjadi Rp 362.750/tabung.
Sedangkan harga jual elpiji tabung 3 kg masih tetap seperti yang lama yaitu Rp 4.250/kg eks Agen (Rp 12.750/tabung 3 kg). (ir/ir)











































