"Kalau BUMI tidak bisa kembali ke atas Rp 4.000, kisaran pergerakan BUMI akan di sekitar Rp 3.000-3.700," ujar analis PT BNI Securities, Muhammad Alfatif, saat dihubungi detikFinance, Senin (15/9/2008).
Kinerja saham BUMI memang sedang mengalami penurunan besar-besaran. Pada akhir pekan lalu, Jumat (12/9/2008) harga BUMI ditutup di level Rp 3.600, anjlok 19,1% dibanding posisi pekan sebelumnya, Jumat (5/9/2008) di level Rp 4.450.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak penurunan BUMI sebagai saham peringkat 3 dalam pengaruhnya terhadap IHSG, dinilai memberikan kontribusi cukup besar dalam penurunan IHSG belakangan ini.
Pada penutupan Jumat (12/9/2008), IHSG berada di level Rp 1804,06, anjlok 10,8% dari penutupan pekan sebelumnya, Jumat (5/9/2008) di level Rp 2022,56. Jika mengacu pada penutupan IHSG Jumat (6/6/2008) di level Rp 2402,24, penurunan IHSG mencapai 24,9% selama 3 bulan hingga Jumat (12/9/2008).
Sementara kinerja saham TLKM dan BBRI sebagai dua peringkat teratas di atas BUMI, penurunannya tidak terlalu signifikan. TLKM ditutup di level Rp 6.850 pada Jumat (12/9/2008), anjlok 10,52% dibanding penutupan Jumat (5/9/2008) di level Rp 7.600. Pada penutupan Jumat (6/6/2008), TLKM ditutup di level Rp 7.950, anjlok 14,46% dari penutupan Jumat (12/9/2008).
BBRI ditutup di level Rp 5.050 pada Jumat (12/9/2008), anjlok 12,93% dari penutupan pekan sebelumnya Jumat (5/9/2008) di level Rp 5.800. Malah jika mengacu pada penutupan Jumat (6/6/2008) di level Rp 5.500, penurunan BBRI selama 3 bulan hingga Jumat (12/9/2008) hanya sebesar 8,18%.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penurunan BUMI baik selama pekan terakhir maupun 3 bulan terakhir, memberikan pengaruh besar pada penurunan IHSG belakangan ini. Saham BUMI pada perdagangan Senin (15/9/2008) turun Rp 50 menjadi Rp 3.550 per saham.
"Memang cukup berpengaruh, apalagi BUMI peringkat 3," ujar Alfatih.
Namun Alfatih mengatakan IHSG masih ada kemungkinan rebound. Meski ia mengakui sentimen positif yang bisa menggerakkan pasar masih kurang memadai.
"Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain, hasil The Fed meeting soal FFR, kondisi inflasi Indonesia dan tentunya BI Rate. Harapannya faktor-faktor ini dapat memberikan sentimen positif pada IHSG," ujar Alfatih. (dro/ir)











































