Kisruh Pasar Global, Pelemahan IHSG Terburuk di Asia

Kisruh Pasar Global, Pelemahan IHSG Terburuk di Asia

- detikFinance
Selasa, 16 Sep 2008 09:54 WIB
Kisruh Pasar Global, Pelemahan IHSG Terburuk di Asia
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjungkal 113 poin pada 10 menit pembukaan perdagangan Selasa (16/9/2008). IHSG mencatat penurunan terburuk di Asia.

Pada perdagangan saham pukul 09.40 JATS, IHSG anjlok 113,112 poin atau 6,58% menjadi 1.606,142 yang merupakan posisi terendah sejak 2 November 2006 di posisi 1.607,696.

Bursa saham Asia yang ikut anjlok di perdagangan Selasa pagi adalah Hang Seng turun 6,19%, Seoul turun 5,61%, KOSPI turun 5,47%, Nikkei turun 5,06%, Shanghai turun 3,84%, STI Singapura turun 2,58% dan Taiwan turun 5,12%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pailitnya Lehman Brothers dan anjloknya harga komoditas mulai dari minyak, timah, nikel dan CPO menimbulkan spekulasi bahwa krisis kredit dan perlambatan ekonomi global masih akan memburuk.
       
"IHSG telah bergerak di bawah asumsi teoritis fundamental. Faktor-faktor sentimen negatif di pasar mendorong penurunan negatif ini. Jika mengacu pada faktor-faktor fundamental emiten, asumsi teoritis IHSG yang wajar ada di kisaran 2.000," ujar Analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Selasa (16/9/2008).

Pergerakan IHSG yang terus menurun diperkirakan didorong oleh sentimen negatif seperti kebangkrutan beberapa lembaga keuangan Amerika Lehman Brothers, Meryll Lynch dan faktor-faktor lainnya seperti penurunan harga komoditas, minyak mentah hingga penurunan asumsi makro ekonomi yang mendorong beberapa negara melakukan revisi pada target-target pertumbuhan ekonominya.

"Sejauh ini sentimen positif di pasar modal dunia belum terlihat tanda-tanda kemunculannya. Mungkin jika The Fed hari ini memutuskan memangkas suku bunganya sebanyak 25 basis poin, akan memberikan pengaruh positif terhadap pasar modal," kata Mastono.

Namun Mastono mengakui bahwa sentimen positif dari penurunan suku bunga The Fed (FFR), hanya akan memberikan pengaruh jangka pendek terhadap pasar modal. Masih ada faktor-faktor makro ekonomi lainnya yang harus diintervensi agar kondisi pasar modal dapat kembali kondusif.

"Jika asumsi-asumsi makro telah terdapat kepastian, baru kondisi pasar modal dapat kembali kondusif," ujarnya. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads