Timah Tunda Akuisisi Tambang Dalam Negeri

Timah Tunda Akuisisi Tambang Dalam Negeri

- detikFinance
Jumat, 19 Sep 2008 15:49 WIB
Timah Tunda Akuisisi Tambang Dalam Negeri
Jakarta - PT Timah Tbk menunda rencana akuisisi tambang di dalam negeri yang menggunakan pinjaman perbankan akibat ketatnya kondisi likuiditas tanah air.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Timah Wachid Usman di Kantor Kementerian BUMN, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (19/9/2008).

"Kami menunda akuisisi karena kalau punya utang dalam kondisi seperti ini bisa berdampak negatif bagi perusahaan," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, sebenarnya perseroan masih berniat untuk melanjutkan proses akuisisi tersebut. Namun harga timah dunia saat ini yang sudah mulai melemah bisa membuat kinerja produsen timah plat merah terbesar di Indonesia itu menurun.

Tahun ini, Timah berniat mengakuisisi empat tambang batu bara di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan senilai Rp 2 triliun. Selain batu bara, Timah juga berniat mengakuisisi rekan sesama BUMN, yaitu PT Sarana Karya yang memproduksi aspal alam di Pulau Buton, pada awal 2009.

Ia mengaku, pinjaman perbankan akan semakin sulit dilakukan disaat kondisi menurunnya harga komoditas termasuk timah, naiknya suku bunga, dan juga masih lemahnya nilai tukar rupiah.

Sebelumnya Timah juga telah membatalkan rencana akuisisi terhadap sebuah tambang timah di Australia karena hasil due diligence menunjukkan cadangan terlalu kecil.

Biaya untuk akuisisi dan juga belanja modal tahun ini diperkirakan bakal mencapai Rp 1,4 triliun. Akuisisi rencananya juga akan menggunakan kas internal juga pinjaman perbankan karena Timah sudah mendapat komitmen pinjaman Rp 4 triliun dari perbankan dalam negeri.

Timah Belum Putuskan Buy Back


Mengenai usulan pemerintah agar BUMN melakukan pembelian kembali alias buy back saham yang telah jatuh, Usman merasa harus untung ruginya dulu. Dalam kondisi pasar finansial yang tidak pasti seperti sekarang ini menurutnya lebih baik menyimpan dalam bentuk barang bukan uang.

"Kas kita masih positif. Tapi buy back dalam bentuk treasury stok, itu kan uang juga. Lebih baik untuk beli bahan baku. Kita lihat dalam 1-2 bulan ini," jelasnya.

Namun Usman masih ragu untuk menambah cadangan timah saat ini, karena berisiko harganya masih bisa turun.

Lagipula Timah saat ini masih konsentrasi pada beberapa proyek peningkatan produksi timah, terutama penambangan lepas pantai terkait menurunnya produksi tambang darat. Diperkirakan proyek ini bisa memakan investasi Rp 1,2 triliun.

Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, telah meminta kepada lima BUMN terbuka yang dirasa memiliki kas kuat untuk melakukan buy back. Antara lain PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan PT Wijaya Karya (WIKA) Tbk. (ang/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads