Pada perdagangan Senin (6/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka langsung merosot 208,12 poin (2,02%) ke level 10.117,26. Nasdaq juga merosot 42,80 poin (2,20%) ke level 1.904,59 dan Standard & Poor's 500 anjlok 24,45 poin 92,22%) ke level 1.074,78.
Kemerosotan indeks Dow Jones semakin parah, dan selanjutnya menembus level 9.065. Inilah untuk pertama kalinya indeks Dow Jones terpuruk di bawah level 10.000 sejak 4 tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara perdagangan saham di Bursa Saham Brasil terpaksa dihentikan sementara karena anjlok hingga 10 persen dalam 19 menit awal perdagangan. Hal serupa dilakukan Bursa Rusia, yang mengenakan suspensi setelah indeks sahamnya merosot hingga 15%.
Kemerosotan ini mengikuti kejatuhan bursa-bursa Asia dan Eropa sebelumnya. Tak terkecuali IHSG yang bahkan mencatat penurunan terbesar hingga 10 persen dibandingkan bursa-bursa lainnya.
Kepanikan di berbagai bursa dunia ini terjadi setelah pada akhir pekan lalu DPR AS menyetujui UU Penyelamatan Ekonomi US$ 700 miliar, yang selanjutnya diteken oleh Presiden Bush. Dan pada awal ini, tanda-tanda krisis finansial di Eropa semakin tampak.
"Ada krisis kepercayaan di balik aksi jual," ujar Patrick O'Hare dari Briefing.com seperti dilansir AFP.
"Gampang saja, disana ada keengganan untuk percaya bahwa rencana pemulihan sektor finansial akan memberikan perbaikan yang cepat pada sistem finansial global dan perekonomian global," tambahnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani usai rapat kabinet diperluas di Kantor Setneg, Jl Veteran, Jakarta, mengatakan, pemerintah terus mencermati berbagai perkembangan.
"Kita very alert, kita juga melihat secara terus menerus apa-apa yang bisa diperbaiki," ujar Sri Mulyani.
Mengenai kemerosotan yang cukup besar pada IHSG di BEI, Sri Mulyani menilai hal itu disebabkan karena adanya libur panjang lebaran.
"Tapi nanti akan mencari titik equilibirium yang dianggap lebih rasional. Pesannya adalah tetap konsisten kalau kita terlalu reaktif dan memvonis diri kita sendiri dengan tantangan
atau harapan yang buruk itu akan membuat suasana menjadi tidak baik," ujarnya.
Dari sisi pemerintah akan tetap berupaya untuk menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang seimbang dengan inflasi. Namun titik keseimbangan antara pertumbuhan dan inflasi itu kemungkinan tidak sama dengan angka yang dibuat pemerintah sebelumnya.
Β
"Kalau kemarin katakanlah kombinasi adalah 6,4 persen growth dengan inflasi 6 persen
mungkin sekarang ini kalau inflasinya relatif lebih tinggi, katakanlah 7 persen dengan growth yang downside-nya lebih banyak katakanlah 6 persen," urainya.
(qom/qom)











































