Analis memperkirakan rontoknya harga-harga saham seluruh grup Bakrie disebabkan penggadaian saham anak-anak usaha yang dilakukan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku induk usaha.
Para pemberi pinjaman melepas aset-aset saham grup Bakrie di harga murah secara besar-besaran, sehingga menyebabkan harga saham seluruh grup Bakrie berguguran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan kemarin, Senin (6/10/2008) seluruh saham grup Bakrie yang tercatat di Bursa Efek Indonesia anjlok tajam, sampai-sampai terkena penghentian perdagangan saham otomatis (auto rejection).
Transaksi perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dihentikan pada level Rp 2.175, setelah anjlok 32,03% dari posisi penutupan perdagangan Senin (29/9/2008) di level Rp 3.200. Saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dihentikan pada level Rp 460 setelah anjlok 35,21% dibanding penutupan Senin (29/9/2008) di level Rp 710.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga bernasib sama, dihentikan pada level Rp 350 setelah anjlok 32,69% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 520. Saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dihentikan pada level Rp 150 setelah anjlok 36,17% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 235. Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) juga dihentikan pada level Rp 150 setelah anjlok 40% dibanding posisi Senin (29/9/2008) di level Rp 250.
Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang merupakan induk 5 perusahaan di atas juga dihentikan di level Rp 145 setelah anjlok 40,82% dibanding penutupan Senin (29/9/2008) di level Rp 245.
"Dalam keadaan pasar modal seperti sekarang, para peminjam dana yang memegang saham-saham Bakrie memiliki dua pilihan. Pertama, mengharapkan dana yang dipinjamkan ke BNBR dapat dibayar sementara aset-aset saham yang digadaikan nilainya sudah anjlok. Kedua, mereka memutuskan melepas aset-aset saham yang dimilikinya agar tidak menerima kerugian lebih besar," papar Alfatih.
Menurut Alfatih, BNBR sebenarnya memiliki opsi menambah jaminan sahamnya kepada para pemberi pinjaman. Namun sepertinya opsi ini cukup sulit dilakukan oleh BNBR.
"Situasi seperti ini, membuat pemberi pinjaman khawatir. Mereka pun menjual saham mereka untuk menjaga dananya. Sebab, masalah yang terjadi saat ini adalah likuiditas, yang merupakan imbas dari krisis keuangan AS," jelas Alfatih.
Dalam laporan keuangan semester I-2008 yang dipublikasikan, BNBR menyatakan telah melakukan penggadaian saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 3.739.040.000 saham, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebanyak 4.460.330.000 saham dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sebanyak 3.796.540.000 saham.
Aksi penggadaian 19,27% saham BUMI, 30,97% saham ENRG dan 19,06% saham ENRG tersebut dilakukan untuk memperoleh pinjaman jangka pendek dari Odickson Finance sebesar US$ 1,09 miliar pada 21 April 2008. (dro/ir)











































