Rupiah Pagi Menguat ke 9.815/US$

Rupiah Pagi Menguat ke 9.815/US$

- detikFinance
Senin, 13 Okt 2008 08:48 WIB
Rupiah Pagi Menguat ke 9.815/US$
Jakarta - Rupiah menguat tajam di perdagangan sesi Senin pagi. Sinyal rebound-nya pasar finansial regional membuat rupiah punya nafas untuk menuju teritori positif. Apalagi bank sentral juga berjanji untuk siaga di pasar finansial.

Pada perdagangan valas pukul 08.42 WIB, Senin (13/10/2008) rupiah menguat hingga 45 poin ke posisi 9.815 per dolar AS. Posisi rupiah Senin pagi ini menguat lumayan dibandingkan Jumat pekan lalu yang melemah hingga ke 9.860 per dolar AS.

Mata uang utama regional rata-rata menguat pada awal pekan ini seperti won Korea yang menguat 2,77%, dan dolar Singpura menguat 0,33%. Penguatan mata uang regional ini seiring dengan reboud-nya pasar saham negera setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Gubernur BI Miranda S. Goeltom di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Minggu (12/10/2008) malam mengatakan BI sudah menyiapkan berbagai hal untuk mengantisipasi setiap pergerakan di pasar.

BI juga selalu memantau pergerakan di pasar finansial seluruh dunia. Namun BI tidak bisa mengomentari hal yang terjadi saat ini mengingat perkembangan di seluruh dunia sangat dinamis.

"What is relevant today may not the relevant tomorrow. Jadi mendingan saya nggak usah ngomong terlalu banyak. Anda bisa juga lihat, baru saja Australia mengumumkan meng-cover semua guarantee deposit, dan sebagainya. Itu semua kan respons-respons yang terus dinamis sekali dan bergerak secara cepat," urainya.

Layaknya tugas BI selama ini, BI juga akan terus menjaga pergerakan rupiah. BI akan terus berada di pasar untuk menjaga agar jangan sampai pelemahan rupiah mempengaruhi perekonomian terlalu banyak.

"Kami ingin pasar tenang, karena BI tetap akan terus menjaga agar rupiah yang kalaupun melemah, melemahnya tetap mencerminkan bahwa itu adalah pengaruh global," jelas Miranda.

"Karena kalau ada kebutuhan likuiditas global yang banyak membutuhkan dana, sehingga mereka yang memiliki dana disini akan pergi keluar, suatu outflow yang kami perhatikan bahwa itu betul-betul sesuai kebutuhan. Sementara kalau yang belum butuh-butuh banget, kita nggak ingin terlalu banyak keluar," imbuhnya.

Sementara Gubernur BI Boediono mengungkapkan, setiap negara kini sedang mengalami kekeringan likuiditas, termasuk Amerika. Dan Indonesia tidak bisa menghindar dari kondisi yang mengglobal tersebut.

"Oleh karena itu, kita akan me-manage situasi, nantinya akan ada beberapa langkah," ujarnya. (ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads