Saham Grup Bakrie Masih Dihantui Isu Gagal Bayar

Saham Grup Bakrie Masih Dihantui Isu Gagal Bayar

- detikFinance
Kamis, 23 Okt 2008 14:12 WIB
Saham Grup Bakrie Masih Dihantui Isu Gagal Bayar
Jakarta - Tiga emiten grup Bakrie yang telah dibuka suspensinya 17 Oktober lalu, tak henti-hentinya mengalami penurunan drastis hingga kena penolakan otomatis (auto rejection) batas bawah selama 4 hari berturut-turut. Isu gagal bayar masih menyelimuti grup Bakrie.

"Selain faktor bursa global, penurunan tajam saham-saham grup Bakrie masih didorong oleh isu gagal bayar induk mereka," ujar analis PT Valbury Asia Securities, Mastono Ali saat dihubungi detikFinance, Kamis (23/10/2008).

Ketika dibuka suspensinya pada 17 Oktober, harga saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) langsung anjlok tajam hingga kena auto rejection bawah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama 4 hari berturut-turut hingga kemarin pun, saham-saham grup Bakri itu masih anjlok tajam bahkan langsung kena auto rejection bawah dalam setengah jam perdagangan Sesi I dibuka.

Padahal beberapa hari sebelumnya, ketiganya sudah mempublikasikan informasi yang diperlukan terkait rencana penjualan sebagian saham-saham mereka oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku induk usaha.

"Kalau kita lihat, penjualan sebagian saham ELTY dan UNSP ke beberapa investor asing itu nilainya tidak sebanding dengan utang yang melilit BNBR. Sepertinya investor yang memegang saham-saham ELTY, UNSP dan BTEL belum melihat BNBR dapat menyelesaikan utang-utangnya. Sentimen gagal bayar masih memberikan tekanan jual sangat besar," papar Mastono.

Penjualan 15,3% saham ELTY ke Avenue Luxembourg SARL hanya memperoleh US$ 46 juta. Penjualan 5,6% saham UNSP ke Longines hanya senilai US$ 10 juta. Totalnya hanya sekitar US$ 56 juta (sekitar Rp 516,6 miliar dengan kurs yang digunakan BNBR sebesar Rp 9.225 per US$ 1).

Padahal, berdasarkan data total utang BNBR melalui aksi gadai saham ke sejumlah institusi asing dan lokal mencaspai US$ 1,386 miliar dan Rp 560,81 miliar.

Artinya, dana yang diperoleh dari penjualan sebagian saham ELTY dan UNSP hanya cukup untuk membantu melunasi utang ke institusi lokal sebesar Rp 560,81 miliar. Utang ke sejumlah institusi asing yang mencapai US$ 1,386 miliar atau setara dengan Rp 12,785 triliun masih belum jelas dananya.

"Apalagi ditambah dengan menurunnya harga saham-saham grup Bakrie selama 3 bulan terakhir. Kreditor yang memberikan pinjaman kabarnya mempercepat jatuh tempo utang-utang tersebut. Investor yang memegang saham Bakrie akhirnya cenderung menghindari dan memutuskan menjual sebagian besar portofolionya," ujar Mastono.

Menurut Mastono, kunci kembalinya sentimen positif pada saham-saham grup Bakrie akan didorong oleh rampungnya transaksi penjualan sebagian saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

"Penjualan BUMI adalah kuncinya. Selain karena dia paling besar nilainya, BUMI merupakan penggerak sentimen utama di grup Bakrie. Kalau ini beres, sepertinya saham-saham Bakrie akan kembali diminati," ujar Mastono.

Apa yang dikatakan Mastono senada dengan apa yang diungkapkan Muhammad Alfatih, analis PT BNI Securities. Alfatih mengatakan,agar kinerja saham-saham grup Bakrie dapat kembali stabil, sentimen negatif yang menyelimuti harus dibereskan terlebih dahulu.

"Secara fundamental kinerja ELTY, UNSP dan BTEL tidak ada masalah. Namun sentimen negatif masih menyelimuti mereka, sehingga manajemen grup Bakrie harus mampu mengatasi dan meluruskan hal ini agar saham-sahamnya dapat stabil kembali," ujar Alfatih. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads