Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Jumat (24/10/2008) (berdasarkan data CNBC), rupiah anjlok hingga 65 poin ke posisi 10.005 per dolar AS.
Tembusnya rupiah ke level 10.000 per dolar AS karena pasar cemas terhadap krisis global yang kini sedang menerkam Asia setelah lebih dulu menghantam AS dan Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Posisi Asia yang sangat bergantung pada ekspor di Eropa dan AS membuat pemegang dana besar atau hedge fund khawatir terjadi pelemahan di ekonomi Asia.
Sementara Gubernur BI Boediono melihat tidak ada keistimewaannya rupiah melemah ke level 10.000 per dolar karena pelemahan rupiah lebih karena faktor global.
"Apa istimewanya rupiah 10.000?" tukasnya ketika ditanya usai wartawan usai Salat Jumat.
Sementara dalam pesan singkatnya, Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan pelemahan rupiah tidak sendiri karena hampir semua mata uang melemah terhadap dolar AS.
"Faktor melemahnya pasar saham dunia dan juga di Indonesia menyebabkan aliran dana menuju save heaven currency," ujarnya.
Hartadi mengatakan, dalam rezim mata uang mengambang (floating exchange rate) seperti Indonesia maka intervensi yang dilakukan BI hanya untuk mengurangi volatilitas rupiah yang berlebihan.
Sementara Wapres Jusuf Kalla di kantornya, menilai pergerakan rupiah memang sedikit banyak disebabkan karena persepsi.
"Kepercayaan memang sedikit agak merosot dengan (kasus) Indover, tetapi kita sudah selesaikan sebagian besarnya," jelas Kalla. (ir/qom)











































