"Ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk menjaga nilai tukar rupiah tahun depan, pertama penurunan harga minyak. Kedua, rencana penerbitan surat utang AS," ujar pengamat valas Farial Anwar saat dihubungi detikFinance, Minggu (7/12/2008).
Riset lembaga asing Merrill Lynch memprediksi harga minyak mentah dunia bakal anjlok ke level US$ 25 per barel. Bahkan bisa lebih rendah lagi jika dampak resesi global ikut menyeret ekonomi China dan memangkas produksi minyak produsen non-OPEC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farial menambahkan, kebijakan baru Bank Indonesia (BI) tentang transaksi valas juga akan memberikan pengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kebijakan baru BI telah membatasi fluktuasi rupiah terhadap dolar dan memangkas transaksi rata-rata harian dolar menjadi US$ 200 juta dari sebelumnya di kisaran US$ 1,5-2 miliar per hari.
"Dengan adanya pembatasan transaksi valas oleh kebijakan baru BI ditambah penurunan harga minyak, tentu peluang penguatan rupiah menjadi sangat bagus," ujar Farial.
Namun Farial mengingatkan, bahwa peluang tersebut akan berhadapan langsung dengan rencana penerbitan surat utang AS sekitar US$ 600-700 miliar. Farial menjelaskan, akibat dari program bail-out US$ 700 miliar ditambah rencana bail-out tambahan US$ 800 miliar, pemerintah AS membutuhkan pendanaan skala besar.
"Dan itu rencananya akan diperoleh dengan menerbitkan surat utang AS," ujar Farial.
Kendati nilai surat utang tersebut masih belum dapat dipastikan, namun Farial menekankan bahwa penerbitan surat utang AS akan menyerap dolar AS dari seluruh dunia ke negara asalnya.
"Dolar AS akan terserap ke AS dan menyebabkan dolar di pasaran dunia menjadi langka. Ini akan mendorong penguatan dolar secara ekstrem," ujar Farial.
Oleh karena itu, Farial mengingatkan BI harus mampu melihat dua faktor tersebut, penurunan harga minyak dan penerbitan surat utang AS, agar bisa menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun depan.
"Di satu sisi, rupiah punya peluang menguat dengan penurunan harga minyak. Di sisi lain, rupiah bisa melemah tajam dengan penerbitan surat utang AS. Dua faktor yang saling tarik menarik ini harus diperhatikan baik-baik," imbuh Farial. (dro/dro)











































