Rupiah Tak Segemilang IHSG

Rupiah Tak Segemilang IHSG

- detikFinance
Senin, 15 Des 2008 17:05 WIB
Rupiah Tak Segemilang IHSG
Jakarta - Melejitnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak menular ke rupiah. Mata uang lokal ini masih bertahan di level 11.000-an per dolar AS di tengah sentimen positif penurunan harga premium dan solar.

Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (15/12/2008) rupiah melemah 135 poin ke posisi 11.025 per dolar AS. Rupiah hari ini sempat menguat sebentar ke level 10.890 per dolar AS namun kemudian cenderung melemah.

Pergerakan rupiah memang cenderung tertekan sejak Oktober lalu. Namun BI menilai rupiah tidak sendiri karena hampir semua mata uang regional ikut melemah. Jika dibandingkan mata uang regional lainnya rupiah juga tidak berada di bawah alias tidak terlalu anjlok tapi ada di tengah-tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rupiah year to date tidak lagi seperti yang kita bayangkan, semua currency regional kecuali China dan kalau tidak salah tolong dicek, dolar Hong Kong semua mengalami depresiasi. Rupiah tidak sendiri dan rupiah juga tidak di bawah. Dia di tengah, sama dengan karakter yang dihadapi currency regional, jadi ini tema global," kata Deputi Gubernur BI Budi Mulya.

Hal itu diungkapkan Budi, disela-sela rapat dengan Komisi XI DPR, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/12/2008). Budi menegaskan, BI tetap komitemen menjaga stabilitas rupiah baik saat ini, sebelumnya atau ke depan agar mata uang lokal ini tidak terlalu berflkutuasi.

BI juga sudah paham dengan siklus korposari yang memerlukan valas. "Sehari-hari kita juga sudah mengetahui siklus dan kebiasaan para pihak yang membutuhkan valas. Kita melihat tentu ada pemintaan yang genuine, tapi pencermatan pasar BI kan butuh lengkap, makanya kita menjaga betul supaya rupiah tidak berflkutuasi tanpa terkendali," jelas Budi.

Mengenai dampak penurunan premium dan solar terhadap pergerakan rupiah, menurut Budi yang pasti penurunan harga itu akan berdampak pada pengurangan tekanan terhadap inflasi.
 
"Ada first round effect namany dari penurunan harga BBM. Yang biasanya diikuti second round dari penurunan harga itu mudah-mudah memberikan suatu penguranan tekanan terhadap inflasi. Yang pasti first round effect juga akan terasa kalau second round effect kita lihat seberapa jauh dampaknya terhadap sektor angkutan," katanya. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads