Hal tersebut dikemukakan oleh Corporate Communication Manager Holcim Budi Primawan di sela-sela press gahtering Holcim di Ming Restaurant, Setiabudi Building, Jakarta, Rabu (17/12/2008).
"Dalam 10 tahun ke depan, Holcim berupaya menekan jumlah CO2 dengan rata-rata 516.000 ton per tahun. Jika harga kredit karbon per ton sebesar US$ 10-15 maka total bisa mencapai US$ 50 juta," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sepakat untuk menggunakannya kembali agar tidak menggangu cash flow perseroan," ujarnya.
Holcim sudah mendapat pengakuan dari United Framework Convention on Climate Change (UNFCC) pada bulan September lalu karena sudah mengurangi emisi CO2 lewat pemanfaatan biomassa atau limbah pertanian sebagai bahan bakar pengganti batubara dalam proses produksi semennya.
Menurutnya, dari pengakuan di bulan September hingga sekarang, perseroan belum mendapat uang hasil dari kredit karbon tersebut.
"Untuk bisa dicairkan harus ada audit dulu dari pihak ketiga baru nanti diajukan. Paling cepat dalam jangka waktu selama 6 bulan sampai satu tahun dari September," jelasnya.
Ia mengatakan, sejak tahun 1990 pabrik Holcim di seluruh dunia mampu mengurangi emisi CO2 per ton semen sebanyak 16,3 persen. Perseroan mentargetkan pada tahun 2010 nanti direncanakan bisa naik menjadi 20 persen. Sejak tahun 2002 hingga 2007, Holcim Indonesia sudah bisa menekan emisi sampai 12 persen.
Target penjualan
Sementara itu, untuk target penjualan tahun 2008, Ia memperkirakan perseroan bisa menjual 5,4 - 5,6 juta ton semen. Sedangkan total produksi semen per tahun sebanyak 7,9 juta ton.
"Jumlah sales volume ini masih sesuai target, ada peningkatan dari tahun lalu yang hanya 4 juta ton. Untuk tahun depan masih akan kami hitung," ungkapnya. (ang/lih)











































