Euro dan Yen Tekuk Dolar AS

Euro dan Yen Tekuk Dolar AS

- detikFinance
Kamis, 18 Des 2008 07:57 WIB
Euro dan Yen Tekuk Dolar AS
Jakarta - Mata uang dolar AS kian terjepit posisinya terhadap euro dan yen setelah The Fed mengumumkan penurunan suku bunga di kisaran 0 hingga 0,25%.

Ada beragam reaksi terhadap rendahnya suku bunga the Fed apalagi the Fed juga berjanji akan memberikan program stimulus yang bisa kembali menggerakan pasar perumahan.

Namun sebagian menilai the Fed tidak pantas memberikan stimulus yang banyak di sektor perumahan karena kejadian kasus kredit macet subprime mortgage yang lalu belum berakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investor kini mulai bertanya-tanya tentang apalagi amunisi dari Bank Sentral AS (The Fed), setelah sebelumnya menurunkan tingkat suku bunga hingga mendekati nol persen. The Fed sebelumnya juga menyatakan akan menggunakan seluruh alat untuk menggerakkan lagi perekonomian AS.

Seperti dikutip AFP, pada penutupan perdagangan valas Rabu waktu AS (17/12/2008) euro menguat ke posisi 1,4404 dolar AS, naik tajam dari hari sebelumnya di level 1,4018 dolar AS. Posisi euro saat ini tertinggi sejak 29 September 2008.

Euro juga mencatat besaran poin tertinggi sejak mata uang itu diluncurkan pada Januari 1999. Sedangkan terhadap mata uang Jepang, euro juga menguat ke posisi 126,02 dibanding hari sebelumnya 124,74 yen.

Sementara dolar AS juga makin tertekan terhadap yen yang berada di posisi 87,95 yen turun dari hari sebelumnya 88,98 yen. Posisi yen terhadap dolar AS ini tercatat sebagai level tertinggi dalam 13 tahun terakhir yang sempat ada di level 87,11 yen.

Euro terus mengalami penguatan karena ada sinyal dari Bank Sentral Eropa (ECB) bahwa suku bunga tidak akan berubah di level 2,5% pada Januari mendatang.

Sementara mata uang rupiah diprediksi akan mengalami aksi ambil untung setelah penguatan yang signifikan pada Rabu kemarin di posisi 10.950 per dolar AS.

Pada perdagangan valas pukul 07.45 WIB, Kamis (18/12/2008) rupiah ada di posisi 11.025 per dolar As dan ditransaksikan di kisaran 10.925-11.125 per dolar AS.

Namun dari dalam negeri pelaku pasar akan memanfaatkan sentimen positif dari deflasi yang akan terjadi di bulan Desember setelah pemerintah menurunkan harga premium dan solar yang bisa membuat rupiah bertahan di jalur hijau.

(ir/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads