Saham Energi Bisa Lemahkan IHSG

Saham Energi Bisa Lemahkan IHSG

- detikFinance
Jumat, 19 Des 2008 07:35 WIB
Saham Energi Bisa Lemahkan IHSG
Jakarta - Turunnya harga minyak dunia yang kini di level US$ 35 per barel akan memberikan tekanan terhadap saham-saham energi di Bursa Efek Indonesia. Aksi jual membayangi saham tambang yang bisa membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merah.

Harga minyak mentah di New York Merchantile Exchange (NYMEX) pada perdagangan Kamis (18/12/2008) jenis light untuk pengiriman Januari anjlok hingga US$ 3,84 menjadi US$ 35,22 per barel, yang merupakan terendah sejak Juli 2004. Sementara di London, minyak jenis Brent pengiriman Februari turun 2,17 dolar menjadi US$ 43,36 per barel.

Kemerosotan harga justru terjadi setelah OPEC memutuskan untuk menurunkan tingkat produksinya hingga 2,2 juta barel per hari menjadi 24,8 juta bph, atau penurunan terbesar dalam sejarah.

Kondisi ini akan membuat saham-saham tambang di lantai bursa tertekan karena turunnya harga minyak membuat pendapatan perusahaan tambang ikut menurun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alhasil, pada perdagangan saham akhir pekan Jumat (19/12/2008) IHSG akan didominasi pergerakan saham tambang yang cenderung melemah.

Pelaku pasar juga akan melihat pergerakan bursa Asia yang pagi ini dibuka melemah. Indeks saham KOSPI Korea turun 1,67 poin menjadi 1.174,24 dan Nikkei Jepang turun 27,01 poin (0,31%) menjadi 8.640,22.

Pelemahan bursa Asia mengekor turunnya saham-saham di Wall Street, pada perdagangan Kamis (18/12/2008), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 219,35 poin (2,49%) ke level 8.604,99. Indeks Standard & Poor's 500 merosot 19,14 poin (2,12%) ke level 885,28 dan Nasdaq merosot 26,94 poin (1,71%) ke level 1.552,37.

Sementara pada penutupan perdagangan saham Kamis kemarin (18/12/2008) IHSG melemah 12,220 poin (0,9%) menjadi 1.351,764.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Optima Securities


Melemahnya indeks sebesar 12 poin keposisi 1.351 merupakan koreksi yang sehat dan wajar mengingat sudah masuk area overbought. Seiring ekspektasi rendahnya inflasi 2009, pergerakan indeks selanjutnya lebih banyak dipengaruhi sektor yang sensitif terhadap penurunan suku bunga seperti banking, otomotif, semen, konstruksi dan properti. Investor dapat mencermati sektor tersebut di tengah tertekannya harga komoditas saat ini. Pergerakan indeks harian ada dikisaran 1.330-1.370 dengan pilihan saham: JSMR, SMCB, ELTY, ADHI, dan ASII.

eTrading Securities

Perdagangan di bursa Indonesia kemarin kembali sepi terlihat dari kecilnya trading value yang hanya sekitar Rp1,35 triliun, padahal selama 2 pekan ini, trading value rata-rata mencapai Rp2,5 triliun. Hal ini lebih disebabkan oleh semakin dekatnya masa liburan panjang dan mulai berakhirnya fenomena window dressing. Indeks kemarin ditutup melemah tipis 0,9% ke level 1351,7 seiring melemahnya bursa Asia dan Global. Sektor mining, banking dan Infrastruktur adalah beberapa sektor yang terkoreksi kemarin.

Bursa US semalam kembali melemah dalam 2 hari terakhir sejak The Fed menurunkan suku bunganya ke level 0%-0,25%. Pesimisme di pasar kembali hadir setelah S&P menurunkan outlook rating General Electric Co. menjadi negatif seiring kesulitan finansial pada divisi keuangannya GE Capital Finance. Sentimen negatif juga kembali menerpa sektor energy-related setelah harga minyak kembali tumbang ke level US$36/barrel yang disebabkan oleh semakin turunnya permintaan seiring perlambatan ekonomi. Dow Jones terkoreksi -2,5%, S%P500 -2,1% dan Nasdaq -1,7%.

Bursa Asia pada perdagangan hari ini turut terbawa sentimen negatif dari bursa US, meski sentimen anjloknya harga minyak dunia justru memberi sentimen positif ditambah dengan penguatan nilai mata uang regional terhadap US$.

Bursa Indonesia nampaknya justru malah akan sangat tertekan dengan kondisi harga minyak yang berada di bawah level US$40/barrel. Sektor mining dan energy-related yang memiliki kontribusi cukup besar ke indeks diperkirakan akan kembali mengalami tekanan jual yang cukup kuat. Sektor yang justru diuntungkan dari kondisi ini adalah Cement, Infrastruktur, Property dan Banking. Indeks diperkirakan akan bergerak melemah dengan rentang perdagangan pada kisaran 1320 - 1360. (ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads