"Kami berencana mengganti seluruh penggunaan bahan bakar produksi menjadi bahan bakar gas," ujar Direktur Keuangan ESTI, Erlien Lindawati Surianto dalam paparan di gedung Bursa Efek Indonesia, SCBD, Jakarta, Rabu (24/12/2008).
Saat ini, perseroan menggunakan bahan baker produksi kombinasi gas dan listrik yang dibeli dari PLN. Namun akibat adanya program penggunaan listrik bergilir dari PLN, perseroan memutuskan mengganti seluruh bahan bakar produksi ke gas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan program ini, perseroan memperkirakan dapat melakukan penghematan biaya energi hingga Rp 900 juta per bulan. "Ini akan memberikan efisiensi beban pada kinerja keuangan perseroan di tengah krisis," jelas Erlien.
Mengenai pendanaannya, Erlien mengatakan perseroan telah memperoleh seluruh dana yang dibutuhkan untuk program gasifikasi tersebut.
"Sekitar US$ 3,5 juta (53%) sudah diperoleh dari bank Chinatrust. Sekitar US$ 2,275 juta (35%) diperoleh dari Euroasiatic, kredit supplier kami. Sisanya dari kas internal," ujar Erlien.
Hingga triwulan III-2008, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 435,15 miliar, naik 13,4% dari periode yang sama tahun lalu Rp 383,88 miliar. Untuk laba bersih, perseroan membukukan laba bersih triwulan III-2008 sebesar Rp
60 juta, turun 88,5% dari periode yang sama tahun lalu Rp 520 juta.
"Hingga November pendapatan kami sudah sekitar US$ 55 juta. Hingga akhir tahun tidak akan terlalu jauh dari situ. Memang tampak tidak naik jauh dari posisi akhir 2007 US$ 55 juta. Namun tahun lalu, kurs masih di Rp 9.000. Sekarang sudah di Rp 11.000. Jadi setelah dikonversi ke rupiah, pertumbuhannya akan cukup bagus," ujar Erlien.
(dro/qom)











































