Pada perdagangan Jumat (13/2/2009) pukul 07.30 WIB, rupiah dibuka pada level 11.870 per dolar AS, atau melemah 100 poin dibandingkan penutupan kemarin di level 11.770 per dolar AS.
Pergerakan mata uang regional lain pun cukup bergejolak. Dolar AS tercatat terus menguat, terutama atas euro karena ekspektasi Bank Sentral Eropa akan menurunkan suku bunganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jon Gencher, analis dari BMO Capital Markets mengatakan, gejolak di pasar saham membuat para investor kini berpaling ke dolar AS, juga yen dan franc Swiss.
"Pasar sepertinya menyadari bahwa para pembuat kebijakan tidak memiliki penyembuhan magis untuk menyembuhkan pasar yang sakit dan mungkin memerlukan langkah lebih banyak untuk menstabilkan perekonomian global," ujar Gencher seperti dikutip dari AFP.
"Risk aversion sepertinya masih mendominasi tema pasar saat ini dengan investasi 'safa haven' seperti dolar, yen dan Swiss franc sepertinya mendapatkan permintaan lebih banyak ketimbang mata uang lainnya," tambahnya.
Pendorong penguatan dolar AS lainnya adalah pernyatan China bahwa mereka akan terus membeli US Treasury meski negara tersebut menyadari bahwa dolar akan mengalami depresiasi.
(qom/qom)











































