Pada perdagangan Rabu (18/2/2009), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik tipis 3,03 poin (0,04%) ke level 7.555,63. Indeks Standard & Poor's 500 malah turun 0,75 poin (0,10%) ke level 788,42 dan Nasdaq turun 2,69 poin (0,18%) ke level 1.467,97.
Indeks saham bergerak pada kisaran yang sempit sepanjang perdagangan. Investor semakin menahan diri setelah Federal Reserve memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar tidak memberikan reaksi yang positif meski Presiden Obama telah menandatangani UU paket stimulus ekonomi senilai hampir US$ 800 miliar. Di tambah lagi Obama berniat membantu pemilik rumah agar terhindar dari penyitaan melalui program senilai US$ 75 miliar.
"Masalah terbesar di pasar, dalam pandangan saya, adalah kurangnya kepercayaan dan kekecewaan bahwa pemerintahan baru ini sama sekali belum melakukan hal yang nyata untuk mengambil aset-aset bermasalah di bank," tambah Al Goldman seperti dikutip dari Reuters.
Salah satu saham yang berhasil menahan penurunan adalah Wal-Mart. Peritel tebresar itu mencatat kenaikan harga saham 3,7% setelah mencatat pendapatan yang melebihi ekspektasi Wall Street.
Minyak Anjlok Lagi
Sementara harga minyak mentah dunia tercatat kembali turun menjelang keluarnya data tentang cadangan minyak AS.
Kontrak berjangka utama di New York untuk minyak light sweet pengiriman Maret kembali turun 31 sen ke level US$ 34,62 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman April juga turun 1,48 dolar ke level US$ 39,55 per barel.
Laporan sebelumnya tentang cadangan minyak mentah AS membuat harga minyak tersungkur hingga level terendah sejak November. Harga minyak bahkan sempat menyentuh lagi US$ 32 per barel.
(qom/qom)











































