Tingginya beban bunga dan rugi kurs yang dialami perseroan membuat kinerja laba perseroan di tahun 2008 tergerus habis hingga negatif.
Laporan keuangan XL tahun 2008 yang diaudit kantor akuntan publik Haryanto Sahari dan rekan, yang dipublikasikan Senin (23/2/2009) membukukan rugi bersih Rp 15,109 miliar. Sedangkan di tahun 2007 XL mencatat laba bersih Rp 250,781 miliar dan tahun 2007 memiliki laba bersih Rp 651,883 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari sisi pendapatan perusahaan membukukan kenaikan 45% menjadi Rp 12,156 triliun dibanding tahun 2007 sebesar Rp 8,364 triliun.
Laba usaha XL juga masih positif sebesar Rp 1,752 triliun yang relatif stabil dibanding tahun 2007 sebesar Rp 1,759 triliun.
Total aset XL di tahun 2008 mencapai Rp 28,911 triliun yang naik signifikan dibanding tahun 2007 sebesar Rp 18,8 triliun.
Jumlah pelanggan naik 68% menjadi sebanyak 26 juta pelanggan. Sedangkan jumlah outgoing minutes naik 705% menjadi sebesar 54,9 milliar menit.
"Dengan menerapkan strategi 'offering value through comparable quality at better price', kami telah meraih sekitar 5% tambahan pangsa pasar pendapatan usaha," kata Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi dalam siaran pers, Senin (23/2/2009).
Hasnul juga menjelaskan alasan dari kerugian XL di tahun 2008 sebesar Rp 15 miliar merupakan kombinasi antara incidental charges dan provisi-provisi, dan juga perkembangan nilai tukar yang kurang menguntungkan yang terjadi menjelang akhir tahun 2008.
Selain itu, XL juga mempunyai beban bunga yang lebih tinggi di tahun 2008 yang disebabkan oleh kenaikan pinjaman di tahun 2008. Tanpa pengaruh kurs yang belum terealisasi dan incidental charges di tahun 2008, maka normalized net income XL adalah sebesar Rp 348 miliar.
Sepanjang tahun 2008, XL telah menambah 5.572 BTS baru sehingga pada akhir tahun 2008 XL memiliki 16.729 BTS, dengan belanja modal sebesar US$ 1,2 miliar.
Karena XL telah menyelesaikan program perluasan jangkauan di tahun 2007 dengan menjangkau 90% dari populasi nasional dan juga meningkatkan kapasitas secara signifikan di tahun 2008, maka XL tidak akan mengalokasikan dana belanja modal besar-besaran di tahun 2009.
Dana belanja modal di tahun 2009 akan dialokasikan untuk program investasi secara lebih spesifik dan selektif, karena itu dana yang akan dikeluarkan oleh XL untuk membayar belanja modal di tahun 2009 adalah sebesar US$ 600 - US$ 700 juta.
Sehubungan bisnis menara XL, Hasnul mengatakan, "Kami telah menutup negosiasi penjualan menara kami karena mempertimbangkan kondisi pasar kredit yang saat ini tidak memungkinkan bagi perusahaan-perusahaan memperoleh pendanaan untuk membiayai transaksi ini. Karena itu, kami akan terus menyewakan menara kami kepada para penyewa yang sudah ada yang cukup menghasilkan pemasukan".
Pada akhir tahun 2008, XL membukukan pendapatan penyewaan menara sebesar Rp 277 miliar. Penjualan menara ini sewaktu-waktu bisa dibuka kembali bila ada penawaran yang menarik dan kondisi ekonomi membaik. (ir/qom)











































