Untuk pengembangan kebun jarak ini, Kimia Farma bekerjasama dengan Perum Perhutani dalam pembangunan kebun inti jarak kepyar yang dilanjutkan dengan pembuatan kebun plasma seluas 20 hektar untuk jangka waktu lima tahun ke depan dan dapat diperpanjang.
Direktur Utama Kimia Farma Syamsul Arifin mengatakan pembangunan kebun tersebut akan digunakan sebagai sarana penelitian dan pengembangan jarak kepyar baik penelitian benih unggul, pencegahan dan penanggulangan hama, proses produksi bahan baku jarak kepyar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia mengatakan, hasil biji jarak dari kebun plasma tersebut akan digunakan untuk bahan baku castrol oil perseroan yang pabriknya bertempat di Cepu.
Menurutnya, pabrik dengan kapasitas 6.000 biji jarak per tahun tersebut utilisasinya hanya 30-40 persen saja. Pasalnya, selama ini perseroan kekurangan pasokan bahan baku yang didapat dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara.
Ekspor
Kimia Farma juga mengkaji ekspor minyak jarak kepyar atau castrol oil ke berbagai negara di Asia. Selama ini, produksi castrol oil perseroan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja.
"Dengan adanya pembangunan kebun inti jarak kepyar yang dilanjutkan dengan pembuatan kebun plasma seluas 20 hektar, maka diharapkan kita bisa memproduksi sebanyak 2000 ton biji jarak per tahun," ujar Syamsul.
Ia mengatakan, selama ini emiten dengan kode KAEF tersebut hanya memproduksi sebanyak 1000 ton biji jarak per tahun yang bisa diolah menjadi castor oil. Dulunya, kebutuhan dalam negeri masih sebanyak 1000 ton biji jarak per tahun. Menurutnya, saat ini kebutuhannya sudah meningkat menjadi sekitar 1600 ton biji jarak per tahun.
"Dengan begitu kita punya 400 ton biji jarak yang bisa kita olah lalu kita ekspor," ujarnya.
Ia mengatakan, di Asia hanya Indonesia dan Thailand saja yang memproduksi biji jarak kepyar. Sedangkan permintaannya sangat tinggi dari negara-negara lain.
Menurutnya, harga ekspor biji jarak kepyar jauh lebih besar dari harga dalam negeri, bisa mencapai Rp 10.000-12.000 per ton. Sedangkan dalam negeri hanya Rp 3.000-4.000 per ton saja. (ang/ir)











































