Selisih Rp 1 Triliun, Kredibilitas Lapkeu Bakrie Dipertanyakan

Selisih Rp 1 Triliun, Kredibilitas Lapkeu Bakrie Dipertanyakan

- detikFinance
Senin, 06 Apr 2009 10:45 WIB
Selisih Rp 1 Triliun, Kredibilitas Lapkeu Bakrie Dipertanyakan
Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) merevisi rugi bersih 2008 dari semula Rp 16,624 triliun menjadi rugi bersih Rp 15,855 triliun karena ada revisi senilai Rp 1 triliun atas pos bagian rugi bersih perusahaan asosiasi.

Dalam publikasi laporan keuangan 2008 yang disampaikan Jumat 3 April 2008, BNBR mengumumkan rugi bersih Rp 16,624 triliun. Sehari kemudian pada Sabtu 4 April 2008, BNBR merevisi laporan keuangan tersebut dengan mengumumkan rugi bersih Rp 15,855 triliun.

Tidak ada angka yang berubah dalam revisi tersebut hanya ada perbedaan yang mencolok pada pos 'bagian atas rugi bersih perusahaan asosiasi' dari semula Rp 582,048 miliar menjadi Rp 1,582 triliun atau ada selisih Rp 1 triliun.

Direktur BNBR Dileep Srivastava dalam pesan singkatnya ke detikFinance mengatakan kesalahan penulisan rugi bersih tersebut karena human error. Dia juga mengatakan kinerja BNBR 2009 akan tetap baik karena fundamental bisnis perusahaan yang bagus terutama dari Bumi Resources.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Laporan keuangan BNBR 2008 yang dipublikasikan Jumat ada human error, karena seharusnya rugi bersih Rp 15,86 triliun bukan Rp 16,6 triliun," katanya.

Namun pelaku pasar melihat kesalahan tersebut bisa mengganggu kredibilitas BNBR sebagai perusahaan besar di Indonesia. Selisih Rp 1 triliun dinilai bukan angka yang kecil dan cukup fatal jika disajikan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan ke investor.

Meski begitu Head of Research Recapital Securities Poltak Hotradero menilai memang perusahaan berskala besar kerap mengalami human error karena struktur yang rumit.

"Perusahaan-perusahaan yang berskala besar dan memiliki struktur yang rumit seperti BNBR. BNBR itu kan semacam holding company, namun agak berbeda. Kalau ASII (Astra International) misalnya, dia kan holding company yang seluruh anak usahanya terkonsolidasi penuh," kata Poltak ketika dihubungi detikFinance.

Poltak menjelaskan, di BNBR ada anak usaha yang terkonsolidasi dan ada yang penerimaannya melalui equity. "Jadi BNBR itu lebih semacam private equity. Nah yang kayak gini ini jauh lebih rumit memang, terutama dalam menghitung konsolidasi," katanya.

BNBR sendiri membukukan rekor kerugian terbesar emiten sepanjang sejarah perusahaan publik di Indonesia. Dana kerugian sebesar hampir menyamai dana beberapa APBD pemda. Seperti Papua saja hanya memiliki APBD 2009 sebesar Rp 19 triliun.
(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads