"Menurut saya, siapa pun direksi yang maju nanti harus punya semacam paket stimulus atau insentif agar bisa meningkatkan daya saing para AB, khususnya dalam kondisi seperti ini," ujar Presiden Direktur PT Trimegah Securities Tbk (TRIM), Aviyasa Dwipayana saat dihubungi detikFinance, Rabu (8/4/2009).
Menurut Avi, adanya paket semacam stimulus atau insentif di pasar modal bisa membantu industri kembali tumbuh. Penurunan nilai transaksi rata-rata harian di 2009 dinilai oleh Avi berdampak pada penurunan daya saing, terutama pada para AB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Avi mengakui bahwa sepanjang pekan kemarin nilai transaksi rata-rata harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah kembali menyentuh angka Rp 3 triliun. Bandingkan dengan nilai rata-rata di bulan Januari dan Februari 2009 yang
berkisar antara Rp 500-1,5 triliun.
"Meski sudah menunjukkan tanda-tanda naik, namun masih jauh jika dibandingkan nilai rata-rata harian tahun 2008. Kita tidak tahu apakah ini akan bertahan atau tidak. Dengan adanya paket stimulus, saya pikir bisa membantu upaya mendorong pertumbuhan pasar modal," ujarnya.
Usulan yang konon sedang dibahas para AB antara lain: pemotongan fee transaksi, pajak transaksi dan usulan penurunan biaya pencatatan perdana (listing fee).
"Fee transaksi kita masih tergolong tinggi. Kalau bisa kita minta discount hingga 50%. Ini bisa mendorong daya saing. Di Singapura contohnya, fee transaksi hanya 1/8 dari fee transaksi kita," jelas Avi.
Pajak transaksi, Avi melanjutkan, juga menjadi usulan yang boleh jadi akan diusulkan. Menurutnya, penurunan pajak transaksi juga bisa dijadikan bentuk insentif. Usulan lainnya adalah penurunan listing fee.
"Penurunan listing fee akan mendorong perusahaan-perusahaan lebih konfidens masuk pasar modal, apalagi dalam kondisi seperti ini," ujarnya.
Sementara menurut Head of Research PT Recapital Securities Poltak Hotradero, usulan tersebut pada dasarnya sah-sah saja diajukan. Hanya saja, Poltak mengingatkan, jangan sampai hal tersebut membebani kinerja otoritas.
"Saya pikir, usulan seperti itu harus dicermati baik-baik. Siapa yang diuntungkan, siapa yang akan terbebani dengan adanya berbagai discount tersebut. Jangan sampai hanya menguntungkan para AB, tetapi tidak berpengaruh apa-apa pada para investor. Kalau begini kan sama saja, tidak akan berpengaruh pada pertumbuhan industri," ujar Poltak.
Poltak juga menekankan, jika otoritas bursa diminta memberikan stimulus atau insentif, perlu dibahas juga siapa yang akan terbebani. Menurutnya, jangan sampai paket ini malah membuat BEI membukukan kinerja keuangan yang kurang baik nantinya.
"Kalau pemberian stimulus atau insentif malah membebani kinerja keuangan BEI, kan yang rugi para AB juga sebagai pemegang saham BEI. Laba BEI saja tahun 2008 sudah turun. Jangan sampai pemberian stimulus atau insentif akan membuat kinerja BEI semakin menurun," ujar Poltak.
Mengenai usulan pemotongan pajak transaksi, Poltak mengatakan usulan tersebut tergolong sulit dilakukan, karena perdebatannya akan menyangkutpautkan lembaga fiskal seperti Departemen Keuangan dan Dirjen Pajak.
"Kalau pemotongan pajak transaksi saya kira sulit. Perdebatannya akan panjang, karena ini membutuhkan persetujuan Departemen Keuangan dan Dirjen Pajak. Dalam kondisi ekonomi makro seperti ini, dimana pajak menjadi salah satu tumpuan APBN 2009, saya kira pemerintah akan sulit mengabulkan permintaan tersebut," jelas
Poltak.
Kendati demikian, Avi mewakili para AB tetap berharap usulan-usulan tersebut bisa menjadi salah satu program calon-calon direksi yang akan maju pemilu BEI pada 24 Juni 2009.
(dro/ir)











































