"Ya pemprov Kalsel akan ikut bergabung dalam konsorsium kita dengan KS di Kalimantan Selatan," ujar Corporate Secretary ANTM, Bimo Budi Satriyo saat dihubungi detikFinance, Rabu (8/4/2009).
Menurut Bimo, saat ini perseroan sedang mengurus keperluan administrasi bagi masuknya Pemprov Kalsel di konsorsium ANTM dan KS. Finalisasinya diharapkan bisa dicapai dalam waktu dekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsorsium ANTM dan KS yang tergabung dalam PT Meratus Jaya Iron & Steel sedang membangun pabrik ironmaking di Kalimantan Selatan. Saat ini ANTM menguasai 35% saham dan KS 65% saham di Meratus.
Pemprov Kalsel akan menyediakan 200 hektar yang akan menjadi lokasi pabrik sebagai bentuk penyertaan modal ke dalam Meratus. Komposisi yang sedang dibahas kemungkinan akan menjadi ANTM 31%, KS 61% dan Pemprov Kalsel 8%.
"Angka itu masih di bahas, belum final," ujar Bimo.
Meratus akan membangun pabrik ironmaking dengan kapasitas 315 ribu ton per tahun dan menelan investasi sebesar Rp 707 miliar. Pendanaan proyek diperoleh dari kredit investasi BRI sebesar 65% dan dari ekuitas KS dan ANTM sebesar 35%.
Pemasangan tiang pancang pertama pabrik ini baru saja dilakukan. Operasi komersial pabrik direncanakan dimulai pada pertengahan tahun 2011.
Kontraktor pelaksana proyek adalah PT Krakatau Engineering dengan desainer teknologi Outotec GmBH dari Jerman selaku pemilik lisensi proses ironmaking rotary kiln SL-RN.
Dalam jangka panjang, pabrik ini akan dikembangkan menjadi industri besi baja long product terpadu hingga berkapasitas 1 juta ton melalui ekspansi ke hilir berupa pabrik steelmaking dan rolling serta ekspansi ke hulu berupa penguasaan sendiri pertambangan bijih besi ataupun batubara untuk menjamin pasokan bahan baku yang diperlukan.
Pabrik ini didesain untuk mampu memanfaatkan potensi bijih besi dan batubara yang ada di dalam negeri, sehingga akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku.
Meskipun pada saat ini kondisi perekonomian dunia kurang baik, KS dan ANTM tetap optimis dari sisi timing pembangunan pabrik karena mengantisipasi pulihnya perekonomian dunia, dan memanfaatkan momentum penurunan harga material.
(dro/qom)











































