Rupiah Bisa di Bawah 10.000/US$

Rupiah Bisa di Bawah 10.000/US$

- detikFinance
Rabu, 15 Apr 2009 15:46 WIB
Rupiah Bisa di Bawah 10.000/US$
Jakarta - Tren penguatan rupiah saat ini diakui akibat dana yang mengalir ke pasar karena respons pelaku pasar yang positif terhadap hasil pemilu legislatif.

"Rupiah yang berada di kisaran 10.800/US$ merupakan hal yang positif. Perkiraan kita sampai akhir tahun akan tembus di 10.000/US$," kata ekonom Fauzi Ikhsan di gedung BI, Jakarta, Rabu (15/4/2009).

Ikhsan mengatakan pemilu berjalan aman, dan keadaan politik yang jauh lebih baik dinilai investor akan mendukung kondisini ekonomi yang kondusif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Habis pilpres akan menguat lagi rupiah, karena antisipasi continuitas ke pemerintahan yang cenderung baik dan bisa jadi rupiah tembus 9.800/US$," katanya.

Meski cenderung menguat, Iksan melihat rupiah belum menemukan titik ekuilibriumnya. "Masih berubah-ubah karena pasar yang bergejolak. Kita masih mencari ekuilibrium baru dengan asumsi dan ekspektasi baru dan masa terburuk yang akan terlewati nanti," jelasnya.

Sementara Gubernur BI Boediono mengatakan selain sentimen pemilu, penguatan rupiah juga tidak terlepas dari faktor global.

"Tergantung juga dari naik turunya sentimen global. Sentimen global saat ini sedang bagus, tapi kita tergantung pada sentimen itu. Itu yang akan terus kita jaga. Jadi kita selalu optimislah, kalau suasana dalam negeri bagus, maka (rupiah) banyak peminatnya," jelas Boediono di gedung depkeu, Jakarta, Rabu (15/4/2009).

Mengenai kemungkinan beralihnya dana asing dari Thailand, Boediono mengaku bisa saja seperti itu."Ya bisa juga, Thailand bisa juga punya pengaruh terhadap sentimen tadi karena uang itu kan harus cari tempat yang menurut dia aman. Pokoknya untuk rupiah ini akan selalu kita jaga," jelasnya.

Senada dengan itu, Deputi Gubernur Senior Miranda S Goeltom juga mengakui penguatan rupiah karena mengalirnya dana dari luar atau capital inflow serta imbas pemilu.

"Bukan karena intervensi tapi ada capital inflow saja," katanya.
(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads