Pada perdagangan Rabu (10/6/2009), euro yang merupakan mata uang yang lebih berisiko akhirnya melemah ke 1,3978 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,4063 dolar. Dolar AS juga tercatat menguat atas yen ke posisi 98,12 yen dibandingkan sebelumnya di posisi 97,41 yen.
Dolar AS selama ini sering menjadi tempat berlindung paling aman ditengah guncangan krisis global. Namun seiring membaiknya perekonomian global, investor mulai berani memburu mata uang yang lebih berisiko dengan imbal hasil tinggi. Faktor inilah yang sebelumnya menyebabkan dolar AS melemah tajam pada awal pekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan yang luar biasa dari nilai absolut defisit perdagangan seharusnya positif terhadap dolar AS karena mengurangi beberapa kekhawatiran neraca berjalan akibat besarnya defisit fiskal," ujar Boris Schlossberg, direktur Global Forex Trading seperti dikutip dari AFP.
Sementara nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak stabil di tengah penguatan dolar AS. Kemarin rupiah sempat menembus lagi level 9.996 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2009), rupiah dibuka di level 10.005 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.030 per dolar AS. Potensi penguatan rupiah masih terbuka lebar mengingat investor asing kini terus masuk ke emerging market termasuk Indonesia.
(qom/qom)











































