Hal ini dikemukakan oleh Direktur Utama Tonny Antonius di sela paparan publik di Menara Eksekutif, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat (26/6/2009).
"Yang sudah melakukan pembicaraan dengan kita sekitar 6-7 investor," ujarnya.
Menurutnya, para investor tersebut merupakan gabungan antara investor dalam dan luar negeri. Namun sayang, Tonny enggan membocorkan nama-nama dari investor tersebut.
Dalam laporan yang diberikan perseroan kepada Bank Indonesia (BI), jumlah investor yang berminat untuk membeli bank swasta tersebut jumlahnya cukup banyak. Namun yang sudah melakukan pembicaraan langsung hanya beberapa saja.
"Singapura, India, Korea, Cina dan Malaysia itu negara yang banyak melakukan investasi di bank dalam negeri. Kira-kira investor dari negara-negara itulah (yang berminat)," imbuhnya.
Laporan tersebut diberikan kepada regulator supaya perseroan bisa mendapat masukan mengenai investor mana saja yang layak untuk memiliki bank swasta itu. "Tapi tetap harus sesuai dengan visi dan misi kita selama ini supaya penyaluran kredit dan nasabah kita tetap terjaga," imbuhnya.
Turunkan Rasio NPL
Bank Eksekutif juga menargetkan untuk menekan posisi kredit bermasalah (Non Performing Loan /NPL ) hingga di bawah 5% (net) di akhir tahun 2009. Posisi NPL perseroan pada Maret 2009 mencapai net 9,63%, dan gross 20,5%."Kita sudah lakukan komunikasi yang baik degan BI (Bank Indonesia) agar bisa memilih debitur yang bisa lakukan ketepatan pembayaran dan kelengkapan data," kata Tonny.
Dengan begitu, ia mengharapkan ke depan tidak ada lagi debitur yang macet dalam melakukan pembayaran pinjaman. "Kita juga lakukan diskusi dan menyamakan persepsi dengan BI, sehingga diharapkan bisa ketemu cara bagaimana debitur lama bisa lancar membayarnya," ujarnya.
Menurutnya, yang paling berbahaya bagi industri perbankan bukanlah posisi NPL yang tinggi tetapi lebih kepada masalah likuiditas. "Misalnya kalau ada penarikan dana luar biasa secara serentak, bank yang kuat juga bisa bahaya," ujarnya. (ang/dnl)











































