Pada perdagangan Jumat (26/6/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup turun 34,01 poin (0,40%) ke level 8.438,39. Indeks Standard & Poor's 500 juta turun 1,36 poin (0,15%) ke level 918,90, sementara Nasdaq naik 8,68 poin (0,47%) ke level 1.838,22.
Sepanjang pekan ini, Dow Jones turun 1,19%, S&P 500 turun 0,25%, Nasdaq naik 0,59%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara sentimen negatif yang menggelayuti adalah data yang menunjukkan bahwa bunga tabungan melonjak sehingga para konsumen AS yang memiliki banyak utang kemungkinan tidak akan bisa mengangkat perekonomian AS sesegera mungkin dari resesi.
Data menunjukkan bahwa belanja konsumen dan pendapatan keduanya naik selama Mei setelah stimulus pemerintah menyebar ke seluruh perekonomian. Namun kebanyakan uang itu adalah disimpan. Data simpanan menunjukkan rekor tertinggi US$ 768,8 miliar, tertinggi sejak 1959.
Robert Stimpson, manajer portofolio dari Oak Associates menyatakan, tren masyarakat AS kini memang lebih menyukai menyimpan uangnya ketimbang belanja.
"Pasar AS mungkin akan tertinggal dibandingkan negara lain karena kami harus membayar utang, meningkatkan bunga tabungan dan lebih baik mengurusi keuangan sendiri, yang itu berarti belanja konsumen lebih rendah," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2009).
Saham-saham energi langsung melorot setelah harga minyak turun di bawah US$ 70 per barel. Saham Chevron turun 1,4%, Exxon Mobil turun 1,2%.
Perdagangan cukup besar, transaksi di New York Stock Exchange mencapai 2,35 miliar, dibawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 4,31 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
Harga Minyak Melorot
Sementara harga minyak mentah dunia kembali melorot di bawah US$ 70 per barel seiring terjadinya profit taking.
Kontrak utama minyak light pengiriman Agustus turun 1,07 dolar ke level US$ 69,16 dolar. Minyak Brent pengiriman Agustus turun 86 menjadi US$ 68,92 per barel.
(qom/qom)











































