China Usulkan Dunia Lepaskan Diri dari Jeratan Dolar AS

China Usulkan Dunia Lepaskan Diri dari Jeratan Dolar AS

- detikFinance
Minggu, 05 Jul 2009 16:06 WIB
China Usulkan Dunia Lepaskan Diri dari Jeratan Dolar AS
Jakarta - China mengusulkan agar pertemuan G5 dengan G8 dan Mesir pada 9 Juli 2009 di Italia membahas kemungkinan mengganti dolar AS dari posisinya sebagai mata uang utama dunia. Namun negara-negara G8 tampaknya tidak akan menyetujui usulan tersebut.

Demikian dilansir Reuters seperti dikutip detikFinance , Minggu (5/7/2009).

Negara-negara yang tergabung dalam forum G8 (Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Jerman, Prancis, Inggris, Italia, dan Kanada) berencana menggelar pertemuan dengan anggota forum G5 (Brazil, India, Cina, Mexico and Africa Selatan) ditambah Mesir pada 9 Juli 2009 di Italia.

Pertemuan yang disebut sebagai pertemuan G14 akan membahas persoalan krisis ekonomi dunia. Terkait tema pembahasan tersebut, China mengusulkan agar dunia mulai berpikir untuk mengganti dolar AS dari posisinya sebagai mata uang dunia sebagai salah satu solusi pemulihan ekonomi dunia.

Meski rapat belum digelar, usulan tersebut mengundang pro dan kontra dari negara-negara yang akan menghadiri pertemuan tersebut. Jepang sebagai anggota forum G8 menentang keras agenda pembahasan yang diusulkan China.

Argumentasi Jepang, usulan China agar dunia mencari mata uang baru yang bisa dijadikan mata uang utama dunia justru akan menyebabkan pemulihan ekonomi dunia menjadi lebih sulit, karena mayoritas negara di dunia saat ini menggunakan mata uang dolar AS sebagai cadangan devisanya masing-masing.

Mengganti mata uang dolar AS yang digunakan dalam cadangan devisa, berarti mengajak negara-negara di dunia melakukan penjualan dolar AS secara masif. Hal ini dinilai akan mengakibatkan nilai tukar dolar AS anjlok tajam dalam tempo singkat dan akan berdampak pada perekonomian dunia.

Menanggapi hal ini, pengamat valuta asing Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance mengatakan, pada dasarnya usulan China sangat bagus, mengingat mata uang dolar AS sudah sangat mendominasi perekonomian dunia.

"Tentu ini harus dilakukan secara tepat," ujar Farial.

Menurut Farial, salah satu hal yang menyebabkan krisis ekonomi tahun 2008 terjadi adalah karena dunia terlalu tergantung pada mata uang dolar AS. "Jadi ketika ekonomi AS ambruk, dampaknya terasa di seluruh negara-negara yang terlalu menggantungkan diri pada mata uang dolar AS," ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Namun rupanya belum bisa menggeser posisi dolar AS.

"Salah satunya Euro. Semula itu bertujuan untuk menciptakan mata uang alternatif dunia. Tapi kenyataannya kurang begitu berperan. Itu karena mayoritas negara masih dolar AS minded , termasuk Indonesia," ujarnya.

Padahal, ia melanjutkan, sebenarnya negara-negara di dunia bisa mulai menggeser posisi dolar AS secara bertahap. "Kan sebenarnya bisa dilakukan secara bertahap, seperti mengganti mata uang yang digunakan sebagai cadangan devisa dengan mata uang euro atau yang lainnya," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui kalau sejauh ini belum ada mata uang yang memiliki kekuatan seperti dolar AS, sehingga tampak mustahil untuk mengajak negara-negara di dunia membebaskan diri dari jeratan dolar AS.

"Memang kelihatannya seperti mimpi. Tapi ada kok negara-negara yang sudah melakukannya secara bertahap. Contohnya, Iran, kemudian negara-negara amerika latin. Mereka menolak menggunakan dolar AS sebagai mata uang untuk melakukan pembayaran minyak," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Farial menyatakan upaya mengganti dolar AS dari posisinya sebagai mata uang dunia memerlukan kemauan dari negara-negara di dunia.

"China itu punya cadangan devisa US$ 2 triliun, jauh lebih besar dari cadangan devisa AS. Kalau China memutuskan mengganti dolar AS dari cadangan devisanya, AS pasti kalang kabut. Tapi negara-negara lain mau tidak mau akan mengikuti," ujarnya.
(dro/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads